Daya Negri Wijaya
Jurusan Sejarah FIS UM
Dayawijaya15@yahoo.com
HOS Tjokroaminoto dikenal sebagai
seorang ulama, politikus, ekonom islam yang sangat berpengaruh di abad 20.
Ahmad (2010) berpandangan bahwa pemikirannya tersebut tidak terlepas dari Islam
sebagai basis ideologi dan berdasar pada dua prinsip yaitu Kedermawanan
Islami dan Persaudaraan Islam. Pada konsepsi ini diperlihatkan kearifan Islam
dalam menjawab berbagai masalah sosial ekonomi. Gagasan untuk saling
tolong-menolong dan bersatu membangun perekonomian yang mengacu pada
dasar-dasar syariat Islam, menjadi sebuah ide segar yang mampu menjawab banyak
masalah sosial maupun ekonomi. Manifestasi dari pemikirannya tersebut tergambar
jelas saat bergabung bersama Sarekat Dagang Islam dan berkembang menjadi
Sarekat Islam yang dipimpinnya.
Peran Tjokroaminoto selama menjadi anggota SDI
(Sarekat Dagang Islam), yang akhirnya beliau rubah menjadi SI (Sarekat Islam)
pada 1912, menjadi sebuah gambaran nyata bagaimana Tjokroaminoto adalah seorang
pemerhati, ilmuwan, sekaligus seorang praktisi ekonomi. Ketika Tjokroaminoto
melihat adanya potensi intelektual dalam badan SDI kala itu, dan di sisi lain
banyak kesenjangan dan penderitaan rakyat luas yang notabene bukan kaum
pedagang, maka tergeraklah ide Tjokroaminoto untuk memperluas cakupan bidang
garapan SDI agar membawa kemaslahatan bagi ummat. SI kemudian berkembang pesat
dan menjadi satu saka guru kebangkitan nasional kala itu. Tujuan SI adalah
membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong diantara muslim dan
mengembangkan perekonomian rakyat.
Permasalahan sosial yang dihadapi zaman dimana
Tjokroaminoto hidup adalah diskriminasi ilmu pengetahuan. Sama halnya dengan
era dewasa ini, bahwa perguruan tinggi milik negara memberikan biaya sekolah
yang berbeda untuk masyarakatnya dan masyarakat asing. Contoh kasus pada salah
satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, biaya perkuliahan untuk mahasiswa
Indonesia berkisar antara 1-3 juta rupiah per semester tetapi untuk mahasiswa
asing berkisar sekitar 10 juta rupiah / 1000 dollar per semester. Scherer
(1985) meyakinkan bahwa diskirimasi pengetahuan telah terjadi dalam perjalanan
sejarah pendidikan Indonesia terutama di era pergerakan nasional. Dimana
lembaga pendidikan yang dibentuk pemerintah kolonial Hindia Belanda memberikan
perbedaan tentang biaya sekolah untuk anak-anak eropa dan pribumi. Lebih lanjut
Scherer (1985:44) menambahkan bahwa biaya sekolah anak-anak pribumi dua kali
lipat dari anak-anak eropa sebesar 15 gulden perbulan sehingga hanya anak-anak
pribumi yang ningrat dan kaya raya sajalah yang mampu sekolah di lembaga
pendidikan pemerintah. Masalah utama masyarakat adalah buta huruf dan buta
angka sehingga membuat Tjokroaminoto nantinya tergerak untuk menyinari dunia
pendidikan Indonesia dengan pancaran pendidikan Islam.
Begitu banyak kajian atau penelitian tingkat kampus
hingga tingkat umum yang mengkaji seluk beluk tentang HOS Tjokroaminoto pada
bidang Islam, Ekonomi Islam, Politik Islam, dan Sosialisme Islam tetapi tidak
banyak yang mengkaji pemikiran Tjokroaminoto tentang pendidikan padahal
Tjokroaminoto berupaya mengentaskan kemiskinan dengan pendidikan islam melalui
pendidikan dan pengajaran tjokroaminoto yang didirikan oleh afdelling-afdelling (cabang-cabang)
Syarikat Islam.
Penelitian Pohan (2010) yang mengkaji tentang Nasionalisme & Sosialisme Islam dalam
Pandangan Politik HOS Tjokroaminoto hanya berfokus pada bagaimana pemikiran
politik HOS Tjokroaminoto dalam kaitannya dengan kebangkitan nasional menjadi
pencerah dan pelopor persatuan di tengah perjuangan yang
masih bersifat primordial atau kedaerahan di masa pra kemerdekaan.
Tjokroaminoto yang pertama kali mempelopori terbentuknya organisasi pergerakan
modern yang berskala nasional yaitu Sarekat Islam. Ia pula-lah guru bagi
tokoh-tokoh besar bangsa ini sekaliber Soekarno, Tan Malaka, Kartoesowiryo,
Hamka, Alimin dan Moesso. Penelitian menjadi menarik untuk dilanjutkan bahwa
bagaimana seorang Tjokroaminoto menanamkan nilai-nilai kehidupan bagi
tokoh-tokoh besar nantinya serta apa yang melandasi pemikiran politik seorang
Tjokroaminoto.
Tidak berbeda jauh dengan penelitian
diatas, penelitian tingkat master Sumarno (1992) mengkaji tentang negara dan
demokrasi dalam pandangan HOS Tjokroaminoto. Sumarno berkesimpulan bahwa
Tjokroaminoto adalah seorang yang nasionalis yang bersumber pada patriotisme
dengan semangat cinta tanah air yang didasari atas ukhuwah islamiyah atau
pan-islamisme yang tidak terbatas pada wilayah atau batas negara tertentu. Hal
ini menyadarkan khalayak umum jika nasionalisme memiliki banyak makna dan
tergantung bagaimana latar belakang pengetahuan dalam memaknai nasionalisme
tersebut. Lebih lanjut, Elson juga (2009:18) mengungkapkan bahwa HOS
Tjokroaminoto memaknai nasionalisme dalam cakupan simbol islam sebagai pengikat
solidaritas masyarakat Indonesia saat itu. Atas konsepsi Islam inilah kemudian
Tjokro dan sang istri mendidik para pendiri bangsa di rumah sederhananya di
Surabaya. Bahkan, Soebagijo (1985:15) mengungkapkan bahwa Tjokroaminoto menulis
berbagai karangan bukan hanya tentang keislaman tetapi juga semangat
nasionalisme dan cinta tanah air melalui media Sareka Islam yakni Oetoesan
Hindia.
Berangkat dari sejarah spekulatif bahwa
dengan belajar sejarah yang mengkaji masa lalu untuk menemukan pola-pola yang
umum maka dengan pola tersebut digunakan untuk memprediksi apa yang terjadi ke
depannya. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif solusi
dalam menyelesaikan permasalahan pendidikan dan sosial bangsa ini melalui
gagasan seorang muslim taat bernama Tjokroaminoto. Hal itu membuat tulisan ini
berfokus pada bagaimana latar belakang pemikiran pendidikan Tjokroaminoto,
bagaimana pemikiran pendidikan Tjokroaminoto, bagaimana pemikirannya
menginspirasi tokoh bangsa nantinya, dan apa yang dapat diungkapkan sebagai
sarana solutif bagi permasalahan bangsa ini jika mengkaji gagasan dari
Tjokroaminoto.
Latar
Belakang Pemikiran Pendidikan HOS Tjokroaminoto
Ketika
Tjokroaminoto lahir di Desa Bakur, Madiun, Jawa Timur, 16 Agustus 1882,
masyarakat Indonesia adalah masyarakat jajahan yang dikuasai oleh Pemerintah
Hindia Belanda. Pemerintah ini tidak bertanggung jawab pada rakyat tetapi hanya
sebagai badan penyelenggara yang bekerja di bawah dan atas tanggung jawab
pemerintah Belanda. Di tanah air ini hanya diadakan wali negara yang
menyerahkan segala tugas dan kewajibannya pada Department van Algemeen Bestuur. Di daerah-daerah terdapat gouverneur yang menngepalai provincie, resident yang mengepalai residentie,
dan assistent resident yang
mengepalai afdelling. Semua kepala
daerah tersebut orang Belanda dan orang bumiputera hanya menjadi bupati yang
diawasi oleh controleur yang notabene
orang Belanda (Muljono & Kutoyo, 1985:5).
Pada masa itu banyak terjadi diskriminasi antara orang
Belanda, Cina, dan pribumi dalam segala aspek kehidupan. Bangsa kita saat itu
disebut sebagai inlanders atau
pribumi yang memiliki kedudukan sangat rendah sekali. Hal ini kecuali pribumi
yang memiliki darah biru yang sedikit berada pada posisi yang baik. Sikap
diskriminatif bahkan terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Muljono & Kutoyo
(1985:12) mengungkapkan bahwa terjadi pembedaan antara pribumi dan Belanda
dalam hal karcis kereta api, ada beberapa karcis berwarna, karcis putih untuk
golongan orang Belanda dan Cina dan karcis hijau untuk golongan pribumi yang
ditambahkan tulisan voor inlanders
yang berarti orang pribumi. Sikap diskriminatif ini juga terjadi dalam tempat
pemandian yang biasa didatangi orang Belanda dan orang asing lainnya terdapat
tulisan verboden voor inlanders yang
berarti dilarang masuk bagi orang pribumi. Sikap diskriminatif ini juga
terdapat dalam aspek pendidikan formal, bagi orang pribumi yang ingin masuk
sekolah Belanda seperti HBS atau ELC harus memenuhi syarat yang berat yakni
penghasilan orang tua dia atas 150 gulden dan bahasa yang dipakai adalah Bahasa
Belanda. Hal ini berbeda dengan Tjokroaminoto yang masih seorang keturunan bangsawan yang bergelar
Raden Mas & berhasil mengecap ilmu pengetahuan di OSVIA (sekolah untuk
calon pegawai bumiputera) (Soebagiyo, 1985:1)
Tjokroaminoto kemudian menjadi anggota Volksraad
bersama Abdulmuis sehingga membuat anak-anaknya berhak bersekolah di Europese Lagere School, tetapi anaknya
yakni Harsono juga mendapat diskriminasi dari murid yang berasal dari keturunan
Belanda & guru ELS pada murid pribumi, mereka sering menghardik dengan
sebutan Inlander (Soebagijo, 1985:5). Dalam menanamkan rasa superioritas pada
anak-anak Belanda dan sebaliknya pada anak-anak pribumi, pemerintah melakukan
dalam berbagai cara, salah satunya ialah dengan cara pendidikan serta pelajaran.
Muljono & Kutoyo (1985:16) mengungkapkan bahwa
dalam bidang perekonomian, orang-orang mempunyai kedudukan yang makin kokoh
sehingga pemerintah Hindia Belanda yang pada masa itu memerlukan banyak sekali
uang, menyewakan tanah-tanah yang luas pada orang-orang yang nantinya disebut
sebagai cukong tanah ini. Hal ini diperparah para bangsawan pribumipun ikut
menyewakan tanah mereka yang berakibat banyak dari mereka yang jatuh miskin.
Dengan demikian semakin sengsaralah rakyat bumiputera saat itu. Jangankan untuk
mengenyam pendidikan formal yang layak, untuk sekedar menghirup udara kebebasan
saja tidak puas.
Keadaan yang kacau balau ditambah dengan kesengsaraan
rakyat ini membuat Tjokroaminoto begitu terinspirasi oleh tokoh wayang terutama
terinspirasi oleh tokoh hanoman (Soebagijo, 1985:11) sebagai lambang
perjuangannya membela bangsa dalam menghadapi penjajah atau penindasan belanda.
Sebab dalam kisah ramayana, tokoh Hanoman melawan Dasamuka dan si angkara
murkalah yang kalah. Dalam kasus ini Hanoman menjadi lambang rakyat tertindas
sedangkan Dasamuka adalah kaum penjajah. Selain itu, Tjokroaminoto juga
terinspirasi oleh Ahmadiyah Lahore (Soebagijo, 1985:25) yakni sebuah kelompok
yang berusaha menyesuaikan ayat dengan keadaan sosial-budaya sebuah masyarakat
karena itu kemudian dia menyalin kitab tafsir Maulana Ali dalam bahasa
indonesia sehingga menurutnya lebih mudah dipahami oleh khalayak umum.
Pada awal abad ke-20 terjadi peristiwa penting dalam
dunia Islam yang sedikit banyak juga berpengaruh pada pikiran Tjokroaminoto
yakni gagasan ukhuwah islamiyah atau pan-islamisme. Hal inilah yang kemudian
menginspirasinya dalam menemukan cara bagaimana menyejahterakan umat yakni
dengan menggalang persatuan umat islam di seluruh daerah Nusantara. Dia
kemudian menjadi ketua Sarekat Islam yang berdiri karena berlatar belakang
hegemoni dari kaum Cina atas perekonomian Jawa. Islam jugalah yang kemudian
menjadi ideologi penting dalam hidupnya termasuk nantinya dia menanamkan nafas
islam dalam sekolah-sekolah SI yang dibangunnya.
Tjokroaminoto juga terinspirasi oleh seorang tokoh
timur tengah pada dasawarsa kedua abad ke-20 yakni Mustafa Kemal Pasha. Isawati
(2012:99) mendeskripsikan bahwa Mustafa kemal dapat merubah Turki yang sakit
menjadi Turki yang modern melalui Kemalisme atau filsafat kemal yang
menganjurkan bahwa kebahagiaan terletak dalam kemerdekaan hidup dan suatu
bangsa tidak akan bahagia jika tidak merdeka. Seperti halnya Mustafa Kemal,
Tjokroaminoto dalam membangun umatnya juga memakai tangan besi. Dia cenderung
menggunakan segala cara untuk memenuhi ambisinya termasuk ketika menjungkalkan
Samanhoedi (Tempo, 2011:77).
Pemikiran
Pendidikan HOS Tjokroaminoto
Begitu nampak dalam perjalanan hidupnya bahwa Islam
dipeluknya sebagai pedoman utama dalam berucap dan bertindak. Hal inipun
diajarkannya pada anak dan pengikutnya bahwa hanya Islamlah yang dapat membawa
kebahagiaan umat dan umat untuk menjadi seorang muslim yang seutuhnya maka
harus dididik secara islami. Tempo (2011:28) menjelaskan bahwa pada tahun
1930-an banyak berdiri sekolah Tjokroaminoto yang dibangun cabang-cabang PSII
di semua wilayah. Silabus dan kurikulumnya didasari oleh buku Tjokro yakni Moeslim Nationaal Onderwijs. Sekolah ini
mengajarkan soal arti kemerdekaan, budi pekerti, ilmu umum, dan ilmu keislaman.
Menurutnya asas-asas Islam sejalan dengan sosialisme dan demokrasi maka kaum
muslimin harus dididik menjadi muslim sejati untuk mencapai cita-cita
kemerdekaan umat.
Setidaknya terdapat 5 pemikiran utama Tjokroaminoto
dalam mendidik umatnya yang semuanya berlandaskan pada nafas islami.
Tjokroaminoto bukan hanya mengajarkan gagasannya secara lisan tetapi juga
memperlihatkannya dalam kehidupannya (perilakunya). Inilah yang membuat anak
kandung serta anak kosnya begitu kagum padanya. Sesuatu yang paling sulit
dilakukan adalah menyamakan antara ucapan dan perilaku, memang manusia tiada
yang sempurna tetapi Tjokroaminoto berusaha untuk mencapainya.
Gagasan pertamanya adalah menanamkan
benih kemerdekaan dan benih demokrasi yang telah menjadi tanda kebesaran dan
tanda perbedaan Umat Islam besar pada zaman dahulu. Tjokroaminoto memberikan
pelajaran baik pada anaknya dan anak kosnya tentang arti kemerdekaan dan
demokrasi yakni membela kebenaran dan berpihak pada rakyat serta hanya takut
pada Allah SWT. Suatu ketika pernah anaknya yang baru lulus sekolah memberikan
ijazah kelulusannya pada sang ayah tetapi bukan bangga atau senang,
Tjokroaminoto kemudian dengan tegas malah merobeknya berkali-kali dan
menegaskan pada anaknya bahwa lebih baik untuk menjadi abdi rakyat dengan
membangun cabang SI. Anak kos Tjokroaminotopun pernah merasakan arti demokrasi
yakni ketika Tjokroaminoto sedang berdiskusi dengan teman-temannya, mereka
sering berbeda pendapat dalam memutuskan sesuatu sehingga kemudian diambil
jalan tengahnya. Para anak kosnya ini biasanya hanya duduk mendengarkan dan
mengamati saja. Tjokroaminoto memahami pentingnya rapat umum dan keberanian
bicara buat menggalang massa. Di meja makan rumah Gang Peneleh, ilmu pergerakan
modern ditularkan pada Alimin, Moeso, Sukarno, dan Kartosoewirjo.
Buah pikirannya yang kedua dengan menanamkan
benih keberanian yang luhur, benih keikhlasan hati, kesetiaan dan kecintaan kepada
yang benar (haq), yang telah menjadi tiap tabiat masyarakat Islam pada zaman
dahulu. Tempo (2011:56) dengan gamblang memberi penjelasan bahwa Tjokroaminoto
pernah akan dibunuh mertuanya dan rela menanggalkan pekerjaan serta gelar
ningratnya karena ia merasa mertuanya ini begitu menghamba pada penjajah dan
pikirannya sangat kolot. Nasib bangsa begitu buruk hal ini tidak kurang
diakibatkan karena peran penjajah yang menyedot ribuan gulden setiap tahunnya.
Maka tak salah jika kemudian sebutan mesiah dari tanah jawa atau Heru-Tjokro
disematkan padanya.
Hasil gagasannya yang ketiga dan keempat
ialah menanamkan benih peri kebatinan yang halus, keutamaan budi pekerti dan
kebaikan perangai, dan kehidupan yang saleh, yang dulu telah menyebabkan orang
Arab penduduk laut pasir itu menjadi bangsa tuan yang halus adat lembaganya dan
menjadi penanam dan penyebar keadaban dan kesopanan. Tjokroaminoto dengan
segala tulisannya menggambarkan bagaimana seseorang harus berperilaku
setidaknya setiap muslim harus menjadi muslim yang seutuhnya yang merasuk
hingga rasa dan jiwanya. Hal ini tergambar jelasn pada silabus dan kurikulum
yang terjabarkan pada sekolah Tjokroaminoto di setiap cabang SI.
Gagasannya yang terakhir ialah menanamkan
rasa kecintaan terhadap tanah tumpah darah dengan jalan mempelajari kultur dan
adat istiadat bangsa sendiri. Tjokroaminoto seringkali dalam satu
atau dua minggu sekali mengadakan latihan wayang orang bertempat tempat seni
Panti Harsoyo bersama anak-anaknya & anak-anak pondokannya (Soebagijo, 1985:11).
Tjokro gemar bermain gamelan dan menari dan Istrinya suka bermain piano, hal
ini menular pada anaknya. Salah seorang anaknya Harsono bukan hanya meneladani
kegemaran orang tuanya tersebut tetapi meneladani semangat patriotisme, cinta
tanah air, dan sifat kesederhanaan, dan gemar membantu sesamanya. Harsono
menyaksikan dengan mata kepala sendiri, meskipun orang tuanya menempati gedung
yang luas namun sebagian dari ruangannya disediakan untuk menampung anak muda
pelajar sedangkan kehidupan sendiri sehari-hari selalu tidak pernah
berlebih-lebihan, serba apa adanya (Soebagijo, 1985:12). Harsono sering diajak
dalam perjalanan ke desa-desa untuk menghadiri pertemuan-pertemuan Sarekat
Islam. Awalnya Harsono tidak mengerti apa yang dilakukan ayahnya tetapi lama
kelamaan ia mengerti apa yang dilakukan ayahnya tersebut dan secara otomatis
tidak terasa timbul pula rasa kesadaran dalam batinnya; kesadaran cinta tanah
air, kesadaran sebagai seorang muslim, kesadaran mengabdikan diri pada negara
dan bangsa. Kesadaran untuk berkorban pada agama yang diyakini. Kesan terdalam
Harsono pada ayahnya ketika ayahnya dalam memberikan nasihat pada anak-anaknya
tidak menggunakan kata-kata tetapi lebih diutamakan pada contoh serta perbuatan
yang baik.
Selain itu bagi Tjokroaminoto pendidikan Islam
dilakukan pertama kali dengan mengaji untuk mendalami agama islam, bukan hanya
sekedar membaca disertai ilmu tajwidnya tetapi juga memaknai setiap ayat dalam
kehidupan sehari-hari. Tjokroaminoto juga seringkali mengawasi kemajuan putera-puterinya
dalam mengaji dan menunggu mereka hingga selesai mengaji (Soebagijo, 1985:6).
Tokoh-Tokoh
yang Terinspirasi
Rumah Tjokroaminoto di Gang Peneleh Surabaya menjadi
saksi bisu beberapa anak muda yang sedang menuntut ilmu dari seorang pemimpin
SI. Banyak yang sekedar menyinggahi untuk berdialog tetapi ada juga yang tinggal
bersamanya. Rambe (2008) mengungkapkan muridnya antara lain adalah Soekarno,
Kartosuwiryo, Abikoesno Tjokrosoejoso, Hamka, Alimin, dan Moeso. Dalam
perkembangan nantinya mereka ini yang akan meneruskan perjuangan dalam
membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan dengan cara dan ideologi yang
berbeda-beda. Soekarno dengan kampiun nasionalis, Semaoen dan Moeso memilih
komunis serta Kartosuwiryo menjadi pemimpin umum fundamentalis islam.
Sikap
Tjokroaminoto yang memberikan keteladanan bagi murid-muridnya inilah yang
banyak menjadi inspirasi bagi muridnya. Tjokroaminoto cenderung sering membawa
serta salah satu murid kesayangannya yakni Soekarno ketika dia sedang berpidato
di depan umat Sarekat Islam yang sangat besar jumlahnya. Daras (2011:29)
menggambarkan bagaimana seorang Soekarno sering belajar berpidato di depan kaca
di dalam kamar yang pengap dan gelap. Di salah satu kamar kost milik
Tjokroaminoto tersebut Soekarno berpidato secara berapi-api. Bagi orang yang
pernah melihat gaya berpidato Tjokroaminoto selalu mengungkapkan bahwa gaya
serta cara berpidato Soekarno mirip dengan Tjokroaminoto. Tinggi rendahnya
suara, cara mengatur kalimat, dan menyusun kata, sangat menarik dan gampang
dipahami oleh segenap pendengarnya, tidak peduli apakah dia orang awam,
terpelajar, sarjana, tukang becak atau pedagang (Soebagijo, 1985:8). Selain itu
beberapa murid Tjokroaminoto ternyata juga memiliki kemampuan yang luar biasa
dalam berpidato yang mempengaruhi massanya seperti Semaoen dan Moeso. Prasetyo
(2008:198) menggambarkan bagaimana seorang Semaeon yang baru berusia 18 tahun
dapat mempengaruhi Sarekat Pekerja untuk melakukan pemogokan melalui pidatonya
dan Poeze (2011:14) mengungkapkan bahwa Moeso dikenal sebagai pembicara ulung
walaupun tindak-tanduknya tidak formal.
Soebagijo (1985:10) menjelaskan sikap andap asor (rendah hati) Bung Karno diteladani
dari Tjokro selain pemimpin umat yang tergabung dalam sarekat islam, singa
mimbar, ahli pidato, orator ulung, juga dikenal sebagai seorang yang rendah
hati, berendah hati, suka menolong, gemar berkorban untuk sesama. Soekarno
merupakan anak emas Tjokro di rumah Gang Peneleh hampir setiap malam usai makan
di saat banyak anak kos seusianya menonton televisi, dia duduk bersimpuh di
dekat kaki Tjokro dan mendengarkan semua hal yang dilakukan Tjokro yang
berakhir Tjokro memberikan banyak bukunya pada Soekarno (hal ini pula yang
dilakukan oleh Semaoen walaupun akhirnya ia mengkritik tindakan sang mentor). Soekarno
akhirnya memahami mengapa Tjokro mendirikan Sarekat Islam dan mengapa salah
satu tamunya yakni Alimin bersusah payah menyatukan kaum buruh dan tani dalam
perkumpulan-perkumpulan. Tjokro dengan sabar dan tekun menerangkan pentingnya
aktivitas politik dan mencurahkan seluruh pengetahuannya tentang berbagai macam
ideologi. Soekarno kemudian mengikuti jejak Tjokro dengan banyak menulis dengan
nama samaran Bima di Oetoesan Hindia sehingga nantinya Soekarno berjuang
melawan penjajah melalui gagasan dan tindakan.
Walaupun beberapa anak kosnya tidak begitu terpengaruh
dengan pemikirannya yang condong pada sosialisme-islam dan terbukti mereka
menemukan jalan pemikirannya sendiri, Soekarno dengan nasionalismenya dan
Semaoen dengan sosialisme-komunisme tetapi kiranya hanya SM Kartosoewirjo yang
memiliki kesamaan pemikiran. Kedunya hasil didikan sekolah Belanda sekuler dan
pengetahuan islam mereka sama-sama didapat dari buku-buku berbahasa asing yang
sebenarnya kurang ideal sebagai sumber belajar agama. Dalam perkembangan
sejarah Indonesia, Kartosoewirjo inilah yang menjadi pemimpin Negara Islam
Indonesia. Dia rupanya terinspirasi oleh Tjokro, bukan hanya dia tahu segala
aktivitas Tjokro karena ia menjadi sekretarisnya tetapi juga dia memiliki
kesamaan ide seperti yang dijelaskan diatas. Dalam mengumpulkan Massa,
Kartosoewirjo menirukan Tjokro dengan cara rajin mengadakan rapat umum untuk
memantapkan gerakannya. Selain itu, sama halnya dengan Tjokro ia juga memadukan
Islam dengan mistik (tasawuf bercampur kebatinan). Kartosoewirjo tahu betul
Tjokro dielu-elukan massa karena dianggap sebagai juru selamat dalam ramalan
jayabaya. Nantinya Kartosoewirjo menggunakan kharisma Tjokro dan mitos-mitos
daerah untuk melegitimasikan dirinya sebagai imam yang memimpin rakyat untuk
mendirikan Negara Islam Indonesia.
Penutup
Sebagaimana disampaikan Dala Mukti (2010) yang
mengutip Amanat
Alm HOS Tjokroaminoto kepada murid murid sekolah Jogjakarta, 24 Agustus 1925: “…..Anak-anakku
semuanya, kalau kamu sudah dapat pendidikan Islam dan kalau kamu sudah sama
dewasa, ditakdirkan Allah SWT yang maha luhur, kamu dijadikan orang tani, tentu
kamu bisa mengerjakan pertanian secara Islam; kalau kamu ditakdirkan menjadi
saudagar, jadilah saudagar secara Islam; kalau kamu ditakdirkan menjadi prajurit,
jadilah prajurit menurut Islam; dan kalau kamu ditakdirkan menjadi senopati,
jadilah senopati secara perintah Islam. Hingga dunia diatur sesuai dengan
azas-azas Islam………..” dapatlah
disimpulkan sebagai penutup tulisan ini bahwa Tjokroaminoto percaya jika
seseorang dididik secara islami yang mengedepankan bukan hanya kepandaian akal
tetapi juga kepekaan hati maka mereka tentu akan bahagia serta sejahtera dalam
menjalani kehidupan ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad,
H. 2010. Ekonomi dalam Pandangan H.O.S.
Tjokroaminoto. Diakses tanggal 12 Juni 2012 dari http://harisahmad.blogspot.com/2010/05/ekonomi-dalam-pandangan-hos.html
Daras,
R. 2011. Bung Karno Vs Kartosuwiryo:
Membongkar Sumber Dana DI/TII. Depok: Imania
Elson,
RE. 2009. The Idea of Indonesia: Sejarah
Pemikiran dan Gagasan. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta
Isawati.
2012. Sejarah Timur Tengah 1 (Sejarah
Asia Barat): Dari Peradaban Kuno Hingga Krisis Teluk. Yogyakarta: Ombak
Mukti,
D. 2010. Tjokroaminoto dan Pendidikan: Moeslim Nationaal Onderwijs. Diakses tanggal 17 Juni
2012 dari http://tjokroaminoto.wordpress.com/
Muljana, S. 2008. Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan Jilid I. Yogyakarta: LKiS
Muljono & S. Kutoyo. 1983. Haji Saman Hudi. Jakarta: Depdikbud
Poeze, HA. 2011. Madiun 1948: PKI Bergerak. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Pohan,RI. 2010. Pemikiran
Politik H.O.S Tjokroaminoto Tentang Nasionalisme dan Sosialisme Yang
Berdasarkan Islam. Skripsi Tidak
Diterbitkan. Medan: FISIP USU
Prasetyo, E. 2008. Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin!: Soekarno, Semaoen, & Moh.
Natsir. Yogyakarta: Resist Book
Rambe, S. 2008. Sarekat
Islam: Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942. Jakarta:
Yayasan Kebangkitan Insan Cendekia
Scherer, SP. 1985. Keselarasan & Kejanggalan: Pemikiran-Pemikiran Priayi Nasionalis
Jawa Awal Abad XX. Jakarta: PT Sinar Harapan
Soebagijo. 1985. Harsono Tjokroaminoto: Mengikuti Jejak Perjuangan Sang Ayah.
Jakarta: Gunung Agung
Soyomukti, N. 2009. Dari Surabaya Menuju Bahasa
Persatuan. Harian Kompas Jatim, 23 Oktober 2009
Sumarno. 1992. Perjuangan bernegara demokrasi H.O.S. Tjokroaminto :
Telaah historis pemikirannya dalam Pergerakan Nasional Sarekat Islam 1912-1934. Tesis Tidak Diterbitkan. Depok: FIB-UI
Tempo. 2011. Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa. Jakarta: Kepustakaan
Populer Gramedi