Pendidikan
adalah hasil peradaban suatu bangsa yang dikemabangkan atas dasar pandangan
hidup bangsa yang berfungsi sebagai filsafat pendidikanya; suatu cita-cita atau
tujuan menjadi motif; cara suatu bangsa berfikir atau berkelakuan, yang
dilangsungkan turun-temurun dari generasi ke generasi (suwarno,
2009: 19). Ajaran Samin
terutama 20 Anger-anger pratikel dapat dijadikan acuan untuk membentuk karakter
masyarakat yang rukun, adil, damai, dan punya solidaritas yang tingggi sebagai
sebuah kesatuan. Dalam
tradisi lisan masyarakat Samin, secara sederhana terdapat tiga hukum
(angger-angger) yangharus diikuti: angger-angger pratikel (hukum tindak
tanduk), angger-angger pengucap (hukum berbicara), serta angger-angger
lakonana (hukum perihal apa yang perlu dijalankan).
Beberapa
nilai-nilai pendidikan yang cukup penting dalam pemikiran R. Kohar atau Samin
Surosentiko antara lain:
1.
Nilai anti korupsi
Korupsi oleh sebagian kalangan sering juga disebut sebagai salah satu budaya
negatif bangsa Indonesia. Korupsi bisa ditemukan dihampir semua lini kehidupan
berbangsa dan bernegara. Dirasa sangat penting untuk segera dilakukan upaya
pemutusan mata rantai korupsi di Indonesia, salah satunya lewat jalur
pendidikan. Pengetahuan dan nilai anti korupsi diharapkan bisa ditanamkan dan
dipahami sejak dini.
Pada komunitas masyarakat samin, terdapat sebuah ajaran yang termaktub angger-angger
prakitel (hukum tindak-tanduk) yang cukup relevan jika dijadikan acuan
yakni "Aja kutil jumput, bedhog colong" (Jangan suka
mengambil/mencuri barang milik orang lain tanpa seizin pemiliknya). "Napa
malih bedhog colong, napa malih milik barang, nemu barang teng dalan mawon kula
simpangi" (Apalagi mencuri, apalagi mengambil barang, menjumpai barang
tercecer di jalan itu pun saya jauhi). Nilai pertama yang pertama mengajarkan
untuk tidak mengambil milik orang lain secara aktif. Adapun yang kedua
menunjukkan sikap pasif, artinya ada peluang di depannya, namun tidak mau
mengambilnya (Aziz, 2010).
2.
Pendidikan Berbasis Lingkungan
Masyarakat Samin bisa digolongkan pada masyarakat agraris tradisional yang
sangat mengandal alam untuk menopang hidupnya. Sawah, ladang dan hutan adalah
unsur utama yang dijadikan sandaran hidup, selain itu aktifitas ekonomi mereka
juga sangat tergantung pada tiga unsur tersebut. Oleh karenyanya, masyarakat
Samin sangat menjaga kelestarian lingkungan, selain untuk menopang hidup mereka
sekarang juga untuk kehidupan anak-cucu mereka kelak.
Praktek-praktek
kehutanan masyarakat Samin dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka
terbiasa mengambil kayu bakar, kayu perkakas untuk membuat serta memperbaiki
rumah, menggembalakan sapi dan ternak, lahan tegalan untuk tanaman palawija,
semuanya dilakukan dalam kawasan hutan. Hutan menjadi milik bersama dan siapa
saja boleh memanfaatkannya selama belum dibuka atau dirubah keberfungsiannya
menjadi lahan pertanian. Di karesidenan Rembang, pola perladangan dikembangkan
bersama-sama dengan pola pertanian irigasi. Meskipun sawah irigasi sebagian
besar masih tergantung pada air hujan, namun luas areal pertanian terus
bertambah, yang diikuti dengan pembukaan hutan. Hutan yang telah diolah menjadi
lahan pertanian, hanya dapat diwariskan dan tidak dapat dijual (Purwanto, 2009).
Pendidikan berbasis lingkungan sudah layaknya kita terapkan mengingat kondidi
alam di Indoesia yang semakin memprihatikan, keterbatasan ruang terbuka hijau
berakibat banjir, hutan yang luasnya semakin berkurang berakibat hampir
punahnya beberapa fauna asli Indonesia. Misalnya dengan cara, jika biasanya
pada pendidikan dasar contoh penjumlahan menggunakan analogi mobil, rumah,
pensil dll maka diganti dengan dengan pohon, badak, harimau dll. Lewat cara
demikian guru bukan hanya mengajarkan penjumlahan tetapi juga mengajarkan agar
senantiasa menjaga kelestarian lingkungan
3.
Pendidikan moral
Sesuai dengan
aliran esensialisme pendidikan yang dipelopori oleh Johan Amos Cornenius
bahwa pendidikan berasal dari sebuah filsafat idealisme dan realisme, yaitu
pendidikan harus mendatangkan nilai-nilai kestabilan hidup (Suwarno, 2009: 55-56). Ajaran Samin terutama dua puluh anger-anger pratikel dapat
dijadikan acuan untuk membentuk karakter masyarakat yang rukun, adil, damai,
dan punya solidaritas yang tinggi sebagai sebuah kesatuan. Ajaran
masyarakat Samin juga sangat kental dengan nuansa hukum karma becik
ketitik, olo ketoro, sopo goroh bakal gronoh, sopo salah seleh (yang baik dan
yang jelek akan kelihatan, siapa yang berdusta akan nista, siapa yang bersalah
akan kalah) ini bisa membentuk karakter masyarakat yang senantiasa berbuat baik
kepada sesamanya karena ada kepercayaan, apabila berbuat baik akan mendapat
balasan yang baik. Demikian sebaliknya, apabila berbuat jahat atau jelek akan
mendapat balasan yang jahat atau jelek pula (Arifin, 2011).
Ajaran Samin lain yang mengandung pendidikan moral terdapat pada angger
pangucap, yang berbunyi:
“Pangucap saka lima bundhelané ana pitu lan pengucap saka sanga
bundhelane ana pitu.” Maksud dari hukum ini, orang berbicara harus
meletakkan pembicaraannya di antara angka lima, tujuh, dan sembilan.
Angka-angka tersebut di sini adalah angka-angka simbolik belaka. Makna umumnya
adalah kita harus memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang tidak
senonoh atau kata-kata yang dapat menyakiti hati orang lain (Purwanto, 2009).
Tidak menjaga ucapan bisa mengakibatkan hidup manusia di dunia ini tidak sempurna.
Maka orang harus berbicara secara baik dengan orang lain.
Pendidikan moral juga terkandung dalam angger-angger lelakona, yang berbunyi: “Lakonana sabar trokal. Sabaré diéling-éling. Trokalé dilakoni.”. Maksudnya, Wong Sikep senantiasa diharapkan ingat pada
kesabaran dan serta kesabaran itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi segala permasalahan, prinsip
kesabaran dan ketabahan dalam menyelesaikan masalah menjadi acuan utama. Di
lain sisi, selalu menempatkan segala bentuk kebahagiaan maupun kesedihan
sebagai bagéan (sesuatu yang kodrati harus diterima).
Secara umum, prinsip ini dapat dihubungkan dengan filsafat Jawawong sabar bakal subur (orang yang sabar kelak
akan makmur/bahagia) ataupun nrimo ing pandum (menerima
dengan iklas pemberian Tuhan) (Purwanto, 2009).
4.
Pendidikan kebersamaan dan persamaan
Samin
Surosentiko sadar bahwa untuk menjalin hidup kebersamaan di masyarakat, setiap
orang harus sama-sama bertindak jujur, sama-sama bersikap adil, sama-sama
saling menolong dan sebagainya seperti yang
terdapat dalam angger-angger pratikel. Samin selalu berpegang pada
prinsip sinten mawon kulo aku sedulur. Prinsip inilah yang pada akhirnya
melahirkan rasa persaudaraan yang kuat di kalangan pengikutnya. Ungkapan dhuwékmu
ya dhuwékku, dhuwékku ya dhuwékmu, yén dibutuhké sedulur ya diikhlasaké memberikan
kesan bahwa kehidupan selalu diselimuti rasa kebersamaan dan persaudaraan.
Dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara semagat kebersamaan dan persamaan ini sangat
penting menginggat Indonesia terdiri dari beragam Suku, Agama, Ras, Adat. Jika
semagangat kebersamaan dan persamaan tidak digalakan bukan tidak mungkin negara
ini akan tercerai berai. Semangat kedaerahan dalam rangka agar tidak terjadi
ketercerabutan dari akar budaya boleh-boleh saja, asal jangan memaksakan bahwa
suku atau budaya ini lebih superior dibanding suku atau budaya lainya. Dalam
bingkai negara kesatuan Republik Indonesia semua suku harus mempunyai hak dan
kedudukan yang sama agar tercapai persatuan dan kesatuan sebagai bangsa yang
solid.
Kerangka berfikir
|
Ajaran Samin
|
Nilai pendidikan
|
Aplikasinya
|
|
Angger-angger
(pratikel-pengucap, lelakana)
|
-
Moral
|
-
Mengajarkan agar senantisa berbuat jujur, tidak mencuri, berbohong, dan
menyakiti orang lain.
|
|
Cara Hidup
|
-
Pendidikan lingkungan
|
-
Mengajarkan uapaya untuk melestarikan lingkungan, misalnya menggunakan
analogi pohon dan hewan-hewan langka dalam penjumlahan, disertai dengan
penjelsan pentingnya pohon dan hewan tersebut.
|
|
angger-angger prakitel
|
-
Pendidikan anti korupsi
|
-
Menhajarkan untuk senantisas jujur dalam bertindak dan tidak mngambil yang
bukan menjadi haknya.
|
|
Sisitem kekerabatan (kehidupan)
|
-
Pendidikan persaudaraan dan persamaan
|
-
Mengajarkan agar terciptnya persatuan sebagai bangsa Indonesia, mengajarkan
bahwa semua suku punya hak yang sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
|
Penutup
Kosep
pendidikan nasioalah tidak harus berdasarkan pada konsep pemikiran dari luar negeri
(yang dianggap lebih baik). Kearifan-kearifan lokal yang terdapat dihampir
semua daerah di Indonesia bisa dijadikan acuan untuk menjadi landasan awal
konsep pendidikan. Ajaran Samin Surosentiko misalnya, memang secara langsung
tidak tersangkut dengan muatan pendidikan, namun jika kita
menginterpretasikanya ternyata sangat erat terutama pendidikan moral. Ajaran
Samin hanya satu contoh dan masih banyak contoh lainya, misalnya dari ajaran
orang Baduy, Tengger, Minangkabau dll.
Dalam
mencari konsep pendidikan hendaknya lebih mengacu pada tokoh-tokoh atau gagasan
dari dalam negeri. Bukan bermaksud merendahaka kualitas pendidikan dari luar
negeri tetapi kelebihan utama konsep dan pemeikiran dari dalam negeri adalah
sudah sesuai dengan kondisi sosial, budaya dan alam masyarakat. Konsep itu
lahir dengan latar belakang permasalahan yang ada dari masyarakat indonesia
sendiri.
Daftar rujukan.
Arifin, A.S
2011. Saminisme : Kearifan Lokal dan Nilai-nilai pendidikanya. Majalah
Komunikasi UM.
Aziz, F. Spirit Anti
Korupsi ala Saminisme. (online) KOMPAS.com%20-%20Spirit.antikorupsi.ala.saminisme.htm
diakses tanggal 20 April 2012
Dekker, N.1970.
Masyarakat Samin : Suatu Tinjauan singkat Sosio-Kulturil. Lemabaga penerbitan
IKIP Malang.
Hutomo, S. 1985.
Samin Surosentiko dan Ajaran-ajarannya dalam majalah Basis, No.1 dan 2 Januari-Februari 1985, Yogyakarta.
Purwanto, A.B. 2009.
Samin dan Kehutanan Jawa Abad ke-19. Jurnal Sosiologi Reflektif Edisi
Oktober 2009, Jurusan Sosiologi, UIN Kalijaga, Yogyakarta.
Sastroatmojo, S. 2003. “
Masyarakat Samin : Siapakah mereka?”. Narasi : Jogjakarta.
Sudiarja, A Dkk
(Peny). 2006. Karya Lengkap Driyarkara. Jakarta: Gramedia Pustaka.
Suwarno.
W.2009. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jogjakarta: Arruzmedia
Soeara Asia 14 November 1942. Orang Samin dan Balatentara
Pemerintahan Nippon (Online) http://niod.x-cago.com/maleise_kranten/article.do?code=Niod084&date=19421114&id=084-19421114-003007&words=samin
diakses pada 20 April 2012.
Wahono, dkk. (2002). Mempertahankan
Nilai dari Gesekan Zaman di Kabupaten Kudus dan Pati, Jawa Tengah. Dalam Budi
Baik Siregar dan Wahono (Ed). Kembali ke Akar : Kembali ke Konsep Otonomi
Masyarakat Asli. Jakarta : FPPM.hlm 117.
Zulistiyantoro, D. 2012.
Sedulur Samin dan kearifan lokal. (online)http://unnes.ac.id/berita/sedulur-samin-dan-kearifan-lokal/
diakses pada 20 April 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar