DIDIK BAYU SAMODRA COPALX

Rabu, 30 September 2015

dilema

kami berbincang, menghadapi dilema ini.

"Jadi, apa pendapatmu dinda ?" tanyamu

"Ya karena aku cinta padamu, dan kanda juga punya rasa yang sama khan, tentu aku ingin menikah denganmu, tapi harus atas ijin istrimu"

"Untuk sampai kesana banyak hal yang harus kita lalui, kalau dari fihakku gak rumit, orang tuaku pasti menyerahkan keputusan padaku, hidupku adalah pilihanku, dan pilihanku adalah tanggung jawabku, apapun resikonya" ucapku

"Baiklah, untuk sementara kita jalani dulu apa adanya sampai kepastian itu datang" akhirnya itu jawab yang keluar dari bibirmu.


Hari berganti minggu dan bulan. Kadang aku merasa cinta ini tidak jelas, apakah menaruh harapan padanya suatu kesia-siaan? dan menghapus rasa ini adalah siksaan bagiku. Kodratku sebagai wanita adalah menunggu dan menunggu adalah sesuatu yang menjemukan.


Di waktu yang lain, imajinasiku liar tak terkendali, terlintas di benakku sebuah rencana yang gila dan nekad. Entah bagaimana caranya aku akan datang ke rumahnya, bicara dengan istrinya. Tentu saat kanda Zuna sedang tidak di rumah, bukankah aku selalu tahu, kapan dia di rumah kapan dia di tempat kerjanya.

Belum adanya kepastian membuat batinku tersiksa. Dan kepastian itu adalah apabila istrinya menyetjui kami menikah. Nasibku tergantung pada persetujuannya. Maka atas bantuan temanku, kami susun rencana, aku sudah pernah diberi kanda Zuna alamat. Tepat seperti dugaanku, tak sulit menemukan rumahnya, kanda Zuna sangat dikenal masyarakat di daerah itu. Sebagai pria yang baik dan alim, bahkan orang-orang memanggilnya pak Ustadz.


Sampailah kami di sebuah rumah yang tampak asri dan sejuk. Jujur, hatiku sangat berdebar tak karuan, seperti apakah wanita yang akan kuhadapi, yang telah sekian puluh tahun mendampingi kanda Zuna, sungguh pencapaian yang luar biasa.

Bahkan kanda Zuna pernah menceritakan padaku, mereka telah menunggu 20 tahun baru dikaruniai seorang putra.


Aduuh.......bagaimana ini, kenapa sudah sampai disini tapi perasaanku jadi bimbang. Maju kena mundur kena.

Dan, terlambat untuk mundur, belum sampai kami di depan pintu, pintu telah terbuka dari dalam. Seorang wanita sebaya denganku kira-kira atau lebih muda 1, 2 tahun mungkin. Berpenampilan sederhana, berbaju muslim dan berjilbab, agak sedikit heran menyambut kedatangan kami di depan pintu.

Kudahului saja mengucap salam "Assalamualaikum"

"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh" jawabnya.

Dan kami dipersilahkan masuk dan duduk. Aku sengaja mengambil posisi berhadapan, agar dapat dengan jelas ku memandangnya.

Sejenak kemudian bu Zuna membuka percakapan. Layaknya seorang tuan rumah, ramah dan halus setiap kata yang terucap.

Ken hanya mengatakan bahwa kami dan kanda Zuna adalah teman sesama penulis di Kompasiana. Dan kedatangan kami hanyalah mampir silaturrahmi karena kebetulan sedang ada urusan di kota itu. Singkat cerita, kami pun pamit.


Dalam mobil perjalanan pulang, kusandarkan kepalaku dan kupejamkan mataku. Ken yang tau gelagat hanya memandangku sekilas dan tetap fokus pegang kemudi.

Ya Tuhan ampuni dosaku, dan selalu tuntunlah langkahku. Rasanya aku tak sampai hati menyakiti hati bu Zuna, aku pernah dalam posisi itu dan aku telah merasakan bagaimana sakitnya hati ini.

Akan kusudahi saja hubungan yang salah ini, biarlah ini menjadi catatan dalam buku hidupku.

Bu Zuna, ma'afkan aku.

Tak terasa mataku berkaca-kaca, dan tak tertahankan lagi mengalir deras air mata membasahi pipiku.


Tiba-tiba Ken menghentikan mobil, dan kubuka mataku, kami berhenti di pinggir jalan. Dia memandangku dan menyodorkan sapu tangan.

"Nih...tissunya lagi habis, kenapa kau mbak ? Keluarkan semua beban batinmu, lepaskan semuanya, aku mendengarkan, please mbak....jangan menyiksa diri sendiri"

"Akan kusudahi saja hubungan yang salah ini Ken, dan kututup lagi buku cintaku" Jawabku

"What...? Kenapa..? Mbak yakin..? cerocos Ken bertubi-tubi

"Aku hanya tak ingin menyakiti hati wanita lain, juga tak ingin merusak tatanan rumah tangga orang lain.bayangkan Ken,wanita iti telah 30 tahun mendampingi Zuna dengan setia,tentulah dala duka dan suka”.

“Kanda Zuna pun telah dengan sabar menunggu 20 tahun baru bu Zuna hamil dan punya anak”.

“Luar biasa Ken.....keduanya kini telah memetik buah kesabaran dalam kebersamaan mereka,karier Zuna pun sekarang sedang bagus”

“Aduuh...sungguh tak tau diri aku ini Ken”

“Sudahlah...ayo lanjutkan perjalan.antar aku pulang” cerocosku.

"Siapp" jawaban Ken dan dia menjalankan mobilnya lagi.


Dan demikianlah cerita ini kuakhiri.

Kalau ada kesamaan nama, itu hanya imajinasiku saja.


Tanah Papua, 30 April 2015


Sumber gambar : http://kirsmanlimapdg.blogspot.com/2013/05/apa-pentingnya-perpisahan.html

ketika

untaian syair cintamu
dalam dendang tembang syahdu
engkau mencuri hatiku
kuhunus senjata tulus
aku memburumu
hatiku tlah rapuh berdetak
bagaikan gelas retak
sekali sentuhan
pecahlah sudah berserak
sedangkan aku merawat
dengan penuh kasih
kutanam benih cinta suci
kusiram doa pada Illahi
tak ingin ternodai
andai kau bersabar
menanti kekasih
aku berjanji
sampai tiba
saat mengikat janji suci
hasrat cinta kita kan menyatu
dalam indah mahligai
*
Manado 13072015
Umi Setyowati
Sumber gambar: pixshark

cinta

Kubertanya pada angin, apa itu cinta
Bisiknya, cinta itu seperti belaiannya
Kulihat mentari, apa itu cinta
Dengan silaunya, cinta itu hangat

Kutoleh pada bulan, apa itu cinta
Senyumnya mengembang, tanyalah pada punguk
Kubertanya pada punguk, apa itu cinta
Senandungnya, cinta itu seperti puisinya

Kubasuh muka pada air, apa itu cinta
Dengan beningnya, seperti ia mengalir
Kupeluk geliat mistik api, apa itu cinta
Panasnya, seperti menggelora membara

Kujejak seluruh muka bumi, apa itu cinta
Getarnya, jika berbaring bersamanya
Kupandang awan berarak, apa itu cinta
Dengan putihnya, mengapa harus bermenung

Kubertanya pada pohon, apa itu cinta
Dengan riak daun, dengarkan burung itu
Kubertanya pada burung, apa itu cinta
Celicit cuitnya, cinta itu sehalus bulunya

Pada kumbang memadu, apa itu cinta
Dengungnya, seperti menari menggila
Kurangkul bahu pemabuk, apa itu cinta
Ceguknya, seperti arak tinggal setitik dalam cawan

Kubuka cadar wanita itu, apa itu cinta
Rajuknya, seperti menungguku kembali
Dan pada mata yang mengembun, apa itu cinta
Tetesnya, seperti air yang jatuh di pipi

Bersalik pada begawan, apa itu cinta
Nasihatnya, semua yang bersimfoni tadi
Semuanyaaa....!!! teriakku
Ohhhh langit, kumohon, apa itu cinta......!!!

Gumaman mengguncang alam, "Akulah cinta itu"
"Cinta mereka semua, Aku yang memberi"
"Aku di atas cinta mereka semua"
Membiru dalam pintaku, berilah aku sedikit saja cinta-Mu.


Sumber gambar

des

Des.....
Ketika pertama masuk ke kegelapan, aku ketakutan. Tak ada yang tahu. Iblis pun kubohongi. Semua kubungkus dengan kebengisan. Layaknya iblis dari cerita kematian.
Dalam gelap itu, kepadaku pekat berhamba. Dibawakannya aku sepi. Disajikannya amis darah. Dilumurinya hatiku dengan lendir kental. Kuhirup lembab sepanjang waktu. Aku pun menjadi raja kegelapan.
Itu dulu, Des....
Kala kedigdayaanku menggema. Penuh gelombang kesombongan. Amplitudonya merontokkan tulang-tulang kemunafikan.
Itu dulu, Des...
Kala sarenade pilu tak pernah lepas di gendang telingaku. Setiap waktu. Mengiring barisan keranda di ruang kematian rasa.
Kini tidak, Des..
Setelah kutemukan kau di sudut sepi. Merunduk. Rambut menjuntai. Mata bengis kepenuhan sepi. Bibir merah terbuka, bersapa lekuk garis bangir pesonamu.
Ha ha ha ha !
IbIis memang nakal, Des...diputarnya jarum waktu. Untuk aku menjungkit sigap belatimu.
Ha ha ha !
Berkelebatlah sejuta kunang-kunang neraka di garis tengah belatimu. Menghidupkan cahaya. Menelanjangi mata pesonamu, yang coba kau sembunyikan di balik gerai rambut kelam mu !
Demi jasad-jasad terkubur
Demi arwah-arwah terduduk di batu nisan
Aku katakan
Saat itulah aku jatuh cinta padamu, Des...
Sebuah tamparan yang dulu paling kubenci. Membuatku terjengkang dari tahta kesombongan.
Memapahku pada kedunguan paling banal.
Saat itulah
kulihat kau tersenyum. Bengis. Sebuah wujud kemunafikan keperempuanan merindu. Meluluhlantakan kerak anyir bengalku.
Des...
Rauplah kedunguanku. Sebuasmu. Senada panggilan hatimu. Bawalah ke dalam defenisi neraka mu.
Ini ! Kuberikan belatimu tepat di dadaku. Dan, kunyalakan api mu di sekujur kulitku.
Hujamkan ! Bakar !
Sekarang, Des...Sekarang !
Seperti kemarin kau pinta pada iblis.
Bawa aku ke nerakamu!
Disitulah, Des..
Kelak istana kita. Tempat rindu-dendam bercumbu dalam keabadian.
------

Baca rangkaian fiksi terdahulu ;

Pebrianov

/pebrianov

TERVERIFIKASI (HIJAU) Bersukarialah dengan huruf, kata dan kalimat. Namun demikian jangan mengambil yang menjadi milik Tuhan, dan berikanlah yang menjadi hak kaisar. Celeguk !
Selengkapnya...

4
0
0
KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ? 30

Hsu

Menarik

Y_Airy

Menarik

Putri Apriani

Menarik

Heidy Sengkey

Inspiratif

Haris Fauzi

Inspiratif

Biyanca Kenlim

Menarik

Neinjelen Loch

Menarik
TOTAL KOMENTAR : 40

Thomson Cyrus30 September 2015 15:22:44

usi

40 Umi Setyowati.
70 tahun usiaku, ibarat manula.
Sejatinya aku tlah renta dan lelah.
Namun hatiku amatlah resah.
Anak cucuku masih terpecah belah dan berkeluh kesah.
Dimanakah persatuan dan kesatuan yang tlah kalian ikrarkan?
Kebebasan ramai diperdebatkan.
Kemajuan dan kemapanan sebatas impian.
Wahai anak Negeri, apa yang sedang kalian perbuat?
Mengapa masih saling menghujat.
Sudahilah sudah gugat menggugat.
Bulatkan tekad bersatu tuk memberi manfa'at.
Sa'atnya Engkau bangun dari tidur panjang dan mimpi.
Ciptakan generasi penerus perjuangan kami.
Didiklah putra putri Ibu Pertiwi.
Membangun Negeri dengan sepenuh dedikasi.
Bersama kita songsong masa depan dengan penuh keyakinan.
Kibarkan Sang Merah Putih dengan penuh kebanggaan.
Indonesia Merdeka di segala bidang adalah keniscayaan.
Manado 17 Agustus 2015.
Catatan : Karya ini orsinil dan belum pernah dipublikasikan.




KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

TOTAL RATING : 27

ruang publik

Bandung adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki banyak ruang publik. Ruang publik yang dibangun di kota tersebut secara fisik tidak hanya memanfaatkan bagian alami dari lingkungannya, tetapi juga terdapat beberapa obyek sintetis yang dipadupadankan sehingga bernilai fungsional. Saya rasa menciptakan ruang publik tidaklah sulit. Ruang publik hanya membutuhkan lahan kosong yang diolah menjadi suatu tempat yang nyaman, seperti tersedianya tempat duduk, tempat berteduh, dan tempat sampah. Bagi sebagian orang, ruang publik dimaknai tidak hanya berdasarkan perwujudan fisik atau fungsi, tetapi bagaimana peranan ruang tersebut terhadap sisi emosional mereka.
Sebut saja Taman Vanda. Taman ini terletak di Jalan Merdeka, seberang Balai Kota Bandung. Walaupun taman ini tidak terlalu besar dan luas, tetapi di sana terdapat pelataran yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk duduk dan bersantai. Taman Vanda memiliki tema water decoration, yaitu berupa air mancur dan dancing water. Air mancur dancing water dinyalakan sore hari karena dilengkapi dengan lampu warna-warni yang akan lebih indah jika dilihat ketika sore atau menjelang malam. Sepengetahuan saya, dulu tempat ini adalah taman biasa di tengah kota, tetapi setelah direvitalisasi, taman ini bertambah nilainya menjadi ruang publik yang nyaman diakses oleh siapapun.
Hingga pada suatu sore yang cerah, saya mengunjungi taman tersebut. Banyak pengunjung yang rata-rata keluarga kecil menghabiskan waktu sorenya di taman ini. Para orang tua membiarkan anak-anak bermain di sekitar air mancur. Anak-anak bermain air, berlari, dan tertawa. Selain itu, komunikasi yang kaya terjalin antara orang tua dan anak. Di satu sudut saya mendengar sedikit percakapan ayah dan anak. Ayah bercerita tentang apa itu air mancur, menunjukkannya, dan memberanikan anaknya untuk mendekat lalu menyentuh airnya. Pada awalnya anak tidak percaya diri, tetapi setelah diyakinkan oleh sang Ayah, si anak menjadi lebih berani. Mereka merekam momen kebersamaan dengan mengambil beberapa foto. Menurut pandangan saya, momen tersebut secara tidak langsung akan memperkuat ikatan emosi antara orang tua dan anak. Menciptakan ikatan emosi yang kuat adalah salah satu tugas pengasuhan orang tua yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Ciptakan momennya! Ruang publik adalah sarana memperkuat ikatan tersebut.
Lebih jauh lagi, ruang publik adalah tempat berkomunikasi antarmanusia. Mulai dari tua, muda, kaya, miskin, sehat, sampai dengan penyandang disabilitas. Siapa bilang ruang publik tidak dapat dinikmati oleh penyandang disabilitas? Tentu saja bisa, komunitas salah satu penggeraknya. Saya pernah mendengar kegiatan berjudul Bioskop Harewos (berbisik) yang para pengunjungnya adalah penyandang tunanetra. Mereka diundang untuk menonton film di ruang publik Taman Film Kota Bandung ditemani sukarelawan. Ketika para penyandang tunanetra tidak mengerti dengan jalannya film, mereka dapat bertanya kepada para sukarelawan. Keharuan akan muncul di tengah jalannya film, bagaimana sukarelawan memahami para tunanetra dan menjelaskan jalannya film dengan sabar kepada mereka. Komunikasi telah terbentuk dan ikatan emosional antara sukarelawan dan penyandang tunanetra pun tercipta. Di saat sikap individualisme yang tengah berkembang pada saat ini, ruang publik di suatu perumahan akan mampu menjaga komunikasi antarwarga. Sehingga ikatan emosional atau batin antarwarga tercipta dan tumbuhlah sikap saling tolong menolong serta toleransi. Ciptakan momennya! Ruang publik adalah sarana memperkuat ikatan tersebut.
Ruang publik ibarat suatu lagu. Banyak orang memiliki lagu favorit karena lagu tersebut berasosiasi dengan suatu kejadian emosional di dalam hidupnya. Lalu ruang publik? Ketika anak melintasi taman yang sama beberapa tahun ke depan, dia akan mengingat masa-masa bahagia dengan orang tuanya dan itu adalah penguat baginya untuk menghadapi masa-masa sulit semasa hidup.
Ruang publik adalah habitat yang harus dirawat sepanjang waktu oleh setiap orang. Dimulai dari individu, keluarga, komunitas setempat, hingga orang asing/ wisatawan yang hanya sesekali datang untuk bersantai. Keberlanjutan ruang publik yang telah tertata adalah tanggung jawab kita semua. Habitat yang memiliki fisik bagus dan dilengkapi dengan sarana fungsional tidak akan berperan secara maksimal jika tidak ada pengelolanya, yaitu manusia itu sendiri.
Pada akhirnya ruang publik dapat dibagun oleh siapa pun asalkan peduli dengan lingkungannya. Lahan ruang publik tidak perlu sebesar pusat perbelanjaan, sebagai contoh lagi, siapa sangka kolong jembatan layang dapat disulap menjadi ruang publik yang nyaman seperti Taman Film di Kota Bandung? Apabila lahan terbatas, perbanyaklah ruang publik yang berkualitas di tempat strategis meskipun berukuran mini. Pribadi yang kuat dan cerdas berasal dari pribadi yang seimbang dan ruang publik adalah proyek menuju keseimbangan lahir dan batin.

usir saja

Aktivitas membaca jadi semakin nyaman berkat fitur Firefox Reader View! Kini, tak perlu lagi merasa jengkel oleh ‘gempuran’ iklan di sekitar artikel. Cukup sekali klik, layar tampil bersih seketika.

Tampilan awal

Penghasilan utama website berasal dari iklan. Maka dari itu jangan kaget bila menemukan sejumlah website yang memasang iklan bejibun. Di antaranya bahkan ada yang menampilkan dalam bentuk video !

Hal tersebut jelas mengurangi tingkat kenyamanan pengunjung yang hendak membaca konten suatu artikel. Apalagi berformat video, bandwidth kita bakal tersedot lebih banyak. Niatnya mau irit justru terbuang percuma.

Bagaimana cara mengatasi persoalan macam ini ? Salah satunya dengan memakai fitur Reader View yang dimiliki browser Mozilla Firefox.

Fitur ini terletak pada kolom url sebelah kanan atau berdekatan dengan ikon refresh.


Jika fitur ini diaktifkan semua iklan akan lenyap tak tersisa. Kita pun bisa fokus membaca tulisan dengan beberapa penyesuaian yang bisa diatur.

Bagi yang menggunakan smartphone tak perlu berkecil hati, karena fitur ini juga tersedia pada perangkat mobile ber-OS android.


Namun ada beberapa kekurangan atau kendala yang patut diperhitungkan. Tidak hanya iklan yang disingkirkan, tetapi juga gambar / foto pendukungnya. Begitu pula ketika ingin menonaktifkannya. Halaman akan dimuat ulang -reload-.

Maka dari itu, jika ingin memakainya, saya sarankan diaktifkan saat membaca artikel panjang sekelas cerpen yang total katanya mencapai 500 kata lebih. Kurang dari itu lebih baik pakai normal view saja.

politik bakar hutan

Di Kabupaten Alor-NTT, khususnya Kecamatan Pantar Barat, kalau musim berburu rusa tiba, selalu ada kebakaran hutan. Cara paling ampuh menggiring rusa liar ke laut, lalu ditangkap warga adalah membakar hutan. Dengan membakar hutan, rusa-rusa itu keluar dari persembunyiannya dan berlari menuju pesisir pantai, lalu warga menangkapnya dengan mudah. peristiwa ini terjadi tiap tahun pasca panen. Itu di Alor-NTT.
Kalau di Riau dan Kalimantan, katanya sampai hari ini belum terlacak apa motif pembakaran hutan. Katanya begitu. Tentu praduga kita menyerempet pada suatu kira-kira, bahwa dua provinsi itu [Riau dan Kalimantan] adalah sentral bisnis perkebunan kelapa sawit milik Pak Ci dan Mak Ci di Malaysia dan tuan-tuan di Singapura. Bisa saja pembakaran hutan itu berkaitan bisnis lahan sawit. Jadi, pembakaran hutan, tak lepas jauh dari urusan perut dan bisnis.
Menurut hasil riset Center for International Forestry Research [CIFOR 2015]; harga lahan yang sudah dibersihkan dengan tebas dan tebang ditawarkan dengan harga Rp8,6 juta per hektar. Namun, lahan dalam kondisi 'siap tanam' atau sudah dibakar malah akan meningkat harganya, yaitu Rp11,2 juta per hektar.
Lalu tiga tahun kemudian, setelah lahan yang sudah ditanami siap panen, maka perkebunan yang sudah jadi itu bisa dijual dengan harga Rp40 juta per hektar. Menurut CIFOR, per hektar lahan yang dibakar biayanya $10-20, sementara untuk lahan yang dibersihkan secara mekanis membutuhkan $200 per hektar.
Jadi pembakaran hutan, itu menjadi siklus tahunan pemilik lahan, dalam rangka mengatrol harga lahan sawit. Sirkulasi bisnis macam ini, berputar-putar di lingkaran eksekutif daerah, hingga ke tingkat pusat. Para pemilik kebun sawit ini memiliki mata-rantai politik yang cukup kuat, sehingga regulasi daerah dilumatnya halus-halus; hingga mereka kebal hukum, dan tiap tahun kita mengalami persoalan yang sama dan itu-itu juga; kebakaran dan asap.
Anehnya, dua negara yang menguasai lahan sawit di Indonesia [Malaysia dan Singapura], mencak-mencak dan menyalahkan Indonesia terkait persoalan asap. Anda bayangkan, pengusahanya sudah mengeruk untung berlipat-lipat di Indonesia dengan bisnis sawit; termasuk dengan cara jahat merusak ekologi kita dengan membakar hutan, pemerintahnya pun marah-marah dan menyalahkan Indonesia. Separah harga diri kita sebagai sebuah negara berdaulat?
Politik bakar
Jadi urusannya bukan pembangunan kanal air di sekitar lahan gambut seperti yang disampaikan tuan Presiden Jokowi. Urusannya adalah, mampukah negara hadir dan melawan para kartel sawit itu? Tentu ide Jokowi soal kanal air itu level porsinya Kadis PU Kabupaten. Saya menyayangkan, sebagai pemimpin No 1 di sebuah negara besar, solusi Presiden sangat tekhnis. Mestinya, sebagai presiden, logika dan penerawangan mitigasinya sudah pada level bagiaman politik kebijakan negara untuk menghentikan para penjahat ekologi itu. Bukan mengambil alih tugas Kadis PU. 
Presiden seakan tak memahami, bahwa peristiwa tahunan itu bukan sebuah kejahatan bisnis, dengan merusak tatanan ekologi. Berapa banyak rakyat yang korban, akibat infeksi saluran pernapasan dari asap kebakaran hutan itu. Hampir dua bulan sudah krisis kebakaran itu terjadi, namun naga-naganya, tak ada kebijakan tegas merespon krisis kebakaran hutan itu. Dengan hadirnya presiden di tengah hutan itu, sudah berapa pelaku dan otak pembakaran yang ditangkap?
Presiden bahkan dua kali turun ke titik api. Selfi di tengah-tengah kepulan asap bak duta lingkungan; tapi mengapa sampai hari ini tak paham, bahwa pembakaran hutan tahunan itu, terkait politik kebijakan dan politik pencegahan? Selemah itukah negara, ketika berhadapan dengan kartel sawit dari negeri jiran itu?
Dus disaat yang sama, kita bisa mafhum, bahwa berita terkait pembakaran hutan itu, nyaris menenggelamkan kegagapan pemerintah menghadapi krisis ekonomi yang makin parah. Tentu kita deg-degan, bahwa saat ini sudah terjadi Pemutusan Hubungan Kerja [PHK] besar-besaran. Pengajuan klaim Jaminan Hari Tua [JHT] sudah mencapai Rp.1,6 triliun dari -/+ Rp.8 triliun nilai pengajuan klaim JHT dari Januari-Agustus 2015. Tentu kita patut menduga, bahwa apakah peningkatan klaim JHT itu, berkait dengan PHK massal saat ini?
Persoalan yang masih menganga di hadapan kita adalah, rupiah kini nyaris menyentuh Rp.15.000 per USD. Kita pun kini mengalami episode baru krisis, dari krisis finansial ke krisis sektor riil dan manufaktur. Belum lagi beberapa aksi korporasi BUMN yang menghantarkan Indonesia pada cekikan maut utang luar negeri dengan jaminan beberapa bank BUMN. Bagaimana jika utang-utang itu jatuh tempo dan gagal bayar? Apakah bank-bank BUMN itu jatuh ke tangan asing? Sampai dimana Kabinet Jokowi-JK ini bertahan?
Inilah persoalan-persoalan beberapa bulan lalu yang terekam kuat di memori publik. Tapi singkat kisah, memori publik tentang darurat finansial dan sektor riil di Indonesia ini, musnah dilalap api dan asap. Ada industri pemberitaan yang bermain politik di tengah kabutan asap. Inilah politik bakar, persoalan satu dibakar persoalan lain. Hadehh...

musni umar

Bung Karno pernah berkata “Jasmerah”, Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Sejarah selalu berulang kembali.
Maka dalam rangka memeringati 50 Tahun G 30 S PKI, yang terjadi pada 30 September 1965 menjelang dini, saya ingin menyampaikan 10 catatan:
1. Generasi muda sudah banyak yang lupa sejarah pengkhianatan PKI terhadap republik Indonesia. Tahun 1948, PKI melakukan pemberontakan untuk merebut kekuasaan yang menimbulkan korban sangat banyak dari kalangan umat Islam, yang dikenal dengan peristiwa Madiun Affair. Kemudian tahun 1965 yang dikenal dengan G 30 PKI, sekali lagi melakukan perebutan kekuasaan berdarah yang membawa korban 7 Jenderal TNI AD.
2. Pasca perebutan kekuasaan G 30 S yang gagal, terjadi balas dendam besar-besaran yang dilakukan terhadap para pemimpin PKI, kader, anggota dan simpatisan PKI. Ada yang menyebutkan jumlah yang dibunuh mencapai jutaan orang. Selain itu, banyak yang ditahan, disiksa diberbagai penjara termasuk di Pulau Buru tanpa melalui proses pengadilan.
3. Setelah lahir Orde Reformasi, muncul tuntutan dari berbagai kalangan supaya dilakukan rekonsiliasi. Belakangan ini, semakin keras tuntutan tersebut, bahkan Presiden Jokowi atas nama pemerintah didesak untuk meminta maaf kepada korban peristiwa G 30 S PKI. Belum cukup, kasus PKI dibawah ke forum internasional di Mahkamah Internasional di Den Haag Belanda,
4. PKI menganut ideologi yang menarik bagi rakyat jelata, karena semua orang itu sama. Tidak ada kelas sosial seperti yang dikenal di dalam masyarakat kapitalis, yaitu kelas bawah (lower class), kelas menengah (middle class), dan kelas atas (high class). Perjuangan mereka adalah mewujudkan masyarakat yang makmur tanpa kelas. Walaupun dalam realitas di negara-negara komunis, tidak seperti yang diperjuangkan PKI.
5. PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000-5.000 anggota pada 1950, menjadi 165.000 pada 1954 dan bahkan 1,5 juta pada 1959. Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada tahun 1963, jumlah anggota PKI telah mencapai 2 juta, bahkan ada yang menyebut 3 juta orang. PKI pada saat itu menjadi partai terbesar ketiga di dunia setelah RRC dan Uni Sovyet.
6. Pemilu 1955 merupakan bukti besarnya dukungan rakyat jelata terhadap PKI, karena berhasil mengantongi dukungan suara 6.176.914 suara atau 16,3 persen dari 37.875.299 suara pemilih yang sah.
7. Kebijakan politik Bung Karno dengan jargon Naskom (Nasionalis, Agama, Komunis) telah memberi angin segar kepada kader, anggota, pendukung dan simpatisan PKI, yang mayoritas adalah orang-orang miskin dari kalangan buruh, tani, dan nelayan.
8. Orde Baru dan umat Islam sukses menghancurkan PKI dan melarang untuk selama-lamanya di bumi Indonesia. Rezim Orde Reformasi, dengan isu HAM mencoba menyelesaikan masalah lama yang ditengarai sebagai pelanggaran HAM berat, dengan membentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), tetapi gagal memecahkan akar masalah rakyat jelata, yaitu kebodohan dan kemiskinan.
9. Hal yang sering dilupakan, PKI cepat mendapat dukungan dari kalangan masyarakat bawah, karena masalah “perut”, yaitu keadilan dalam bidang ekonomi. Rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto berhasil menghabisi PKI, tetapi gagal mengentaskan dan memajukan ekonomi dan pendidikan orang-orang miskin. Begitu pula, rezim Orde Reformasi. Kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia bisa menjadi entry point bangkitnya kembali PKI dan kekuatan lama yang telah dihancurkan
10. Setelah 50 tahun pemberontakan G 30 S PKI, di mana anak-anak, cucu-cucu dan keluarga dari pimpinan, kader, anggota, dan simpatisan PKI? Apakah keturunan mereka sudah berubah pendirian dan telah meninggalkan ideology PKI yang melawan Pancasila dengan kelima silanya terutama sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”, atau mereka merubah strategi dalam melanjutkan perjuangan orang tua mereka dengan menyelusup ke partai-partai politik, lembaga-lembaga negara dan menjadi pemimpin di daerah, di LSM dan lain-lain, yang ketika sudah di pusaran kekuasaan, berani berkata “Aku Bangga Menjadi Anak PKI”.
Allahu a’lam bisshawab

tembakau bojonegoro

Semakin kesini harga tembakau di wilayah Bojonegoro semakin tidak terkontrol, petani tembakau dibuat merana, nestapa, kocar-kacir dan tunggang langgang. Bagaimana tidak, harga tembakau ditahun 2015 sama saja dengan harga tembakau 10 tahun yang lalu, padahal nilai inflasinya sudah berapa? kenaikan kurs dolar sudah berapa jika dibanding sepuluh tahun yang lalu.
Sekedar informasi, harga tembakau saat ini, tepatnya bulan september 2015 hanya berkisar dianggka 10.000/Kg, bahkan banyak juga yang terpaksa menjualnya di bawah harga 10.000/Kg. Padahal harga 10.000 tersebut adalah harga tembakau sepuluh tahun yang lalu, wajarnya menurut mereka saat ini harga tembakau itu sudah berada di harga 20.000/kg.
Kenapa harganya sangat anjlok? menurut saya pribadi, ini hanyalah permainan para pengusaha rokok. Harga tembakau akan menjadi mahal ketika gudang- gudang penyimpanan mereka dibuka, alias mau menerima (membeli) tembakau para petani saat panen. Namun pada kenyataannya, saat panen tembakau tiba, gudang selalu tutup, entah apa alasannya. Sehingga dalam kondisi seperti ini mau tidak mau petani akan menjual harga berapapun ke tengkulak (pedagang tembakau), karena tembakau tidaklah dapat disimpan lama dipetani, nanti harganya bakal semakin anjlok karena kualitasnya menurun (versi para petani).
Bisa dibilang ya cuma 'balik modal' saja, dapet capeknya doang. Padahal, berbagai prediksi mengatakan bahwa kemarau akan terjadi masih lama, banyak yang memprediksi hujan baru akan turun dibulan November, otomatis mereka akan mengalami masa tunggu yang masih lama untuk bisa bercocok tanam kembali. 'Paceklik' pun tentu tidak dapat dihindari lagi.

maria g sumitro

Begitu banyak musibah terjadi di Indonesia, tetapi bencana banjir dan tanah longsorlah yang paling menyedihkan. Karena penyebabnya kelalaian manusia. Sehingga bisa diprediksi. Bisa dihindarkan. Tapi diabaikan. Ibarat mengetahui pertanda suatu bangunan hampir roboh, tidak ada seorangpun bertindak mengambil langkah penyelamatan. Apalagi membuat perencanaan jangka panjang.
Demikian pula penggundulan hutan yang menyebabkan tanah longsor dan banjir. Kearifan lokal memberikan pemahaman bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa hutan. Hutan yang dipenuhi jalinan akar pepohonan membantu mengikat tanah dan menyimpan air. Dedaunan, ranting dan hewan mati membentuk lapisan tanah yang subur. Keaneka ragaman hayati tidak saja memberikan kekayaan alam tetapi juga pasokan oksigen. Hutan membantu menstabilkan iklim dunia dengan menyerap karbondioksida dari atmosfer. Karena pembuangan karbondioksida ke atmosfer menyebabkan perubahan iklim melalui pemanasan global.
Sehingga ketika pepohonan ditebang demi alih fungsi sebagai lahan pertanian atau hutan tanaman industri dan di kawasan tertentu berubah menjadi perumahan mewah, maka pelan tapi pasti, kawasan tersebut bakalan longsor. Jika hujan besar, lapisan tanah yang subur pasti hilang tak berbekas. Kerugian tidak sekedar harta dan nyawa tetapi juga kekayaan alam milik generasi penerus. Alih fungsi lahan juga menyebabkan uap air yang masuk ke atmosfer akan semakin berkurang, otomatis hujan yang diturunkan turut berkurang sehingga terjadi krisis air dan kekeringan.
Oleh karena itu sungguh tidak masuk akal ucapan seorang pengusaha dalam acara bincang-bincang di televisi yang menentang moratorium hutan. Dia berkata mengapa kita harus menurut didikte negara asing? Bukankah alih fungsi hutan menjadi perkebunan diperlukan karena rakyat kita masih miskin?
Sementara perwakilan pelaku usaha kelapa sawit memrotes moratorium hutan dengan alasan bahwa melambatnya pembukaan  lahan  sawit hingga 50 %, berakibat hilangnya potential loss penyerapan tenaga kerja sebanyak 120 ribu orang di industri sawit.
Penyerapan tenaga kerja tentunya diartikan pengurangan tingkat kemiskinan. Pertanyaannya adalah sejauh mana dampak alih fungsi lahan? Karena jika menyimak grafik berikut, tidak ada perubahan signifikan selama masa kejayaan Indonesia mengekspor crude palm oil (CPO), hasil olahan kelapa sawit. Padahal Indonesia merupakan produsen CPO utama dunia dengan total produksi 25,2 juta ton pertahun dengan cakupan lahan sawit versi pemerintah seluas 9,4 juta hektar sedangkan data Sawit Watch 12 juta hektar.

13648813061330483502
dok. Arief Anshory Yusuf (Unpad)
Masalah lainnya yang diabaikan tetapi justru terpenting adalah hilangnya kehidupan yang berkelanjutan bersama punahnya keaneka ragaman hayati yang dimiliki hutan. Alih fungsi lahan jelas telah menurunkan kualitas hutan. Saat ini Indonesia ‘hanya’ memiliki 64,2 juta hektar hutan primer, 24,5 juta hektar lahan gambut, serta 36,6 juta hektar hutan sekunder. Pemerintah mempersilakan para pengusaha, termasuk pengusaha kelapa sawit, untuk memanfaatkan hutan sekunder sebagai lahan sawit.
Mengapa ‘hanya’? Karena jika kita melihat peta hutan Aceh sebagai contoh maka akan terlihat betapa banyaknya kawasan hutan yang hilang. Tragedi tersebut terjadi juga terjadi di provinsi-provinsi yang lain dan dipulau-pulau yang lain pula.

13648819241502078097
hutan Aceh (dok. YPBB)
Sehingga ketika moratorium hutan diberlakukan dan ternyata mendapat tentangan dari kalangan pengusaha, sudah seharusnya pemerintah bersikap tegas. Moratorium semestinya dilihat sebagai alat, bukan tujuan, guna menetapkan keadaan yang memungkinkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, menyempurnakan tata kelola hutan dan lahan gambut.
Mubariq Ahmad dari Kelompok Kerja Strategi Nasional REDD+ merekomendasikan, perpanjangan moratorium dua tahun lagi. Karena sebelum moratorium terdapat 15 lembaga yang memberi izin HGU dengan peta berbeda sehingga harus dibuat satu map (one map) dan melembagakan system tata kelola baru pemberian izin yang memiliki fungsi pengawasan.
Tidak mudah, tetapi harus dilakukan karena berbagai kesimpangsiuran tersebut menimbulkan masalah, seperti kasus pemberian izin kebun sawit di Taman Nasional Tesso Nilo oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Indragiri Hilir. Sungguh aneh, bagaimana mungkin muncul HGU untuk Taman Nasional yang begitu jelas peruntukannya sebagai area perlindungan bagi banyak spesies tumbuhan dan hewan termasuk diantaranya spesies yang terancam punah. Karena sesungguhnya Indonesia membutuhkan lebih banyak Taman Nasional semacam itu.
Lebih lanjut Mubariq mengatakan bahwa dia tidak anti alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit karena terbukti memberikan lapangan kerja dan pendapatan Negara. Tapi dia menduga kuat adanya kepentingan perusahaan mengumpulkan lahan sebanyak-banyaknya (land banking). “Berapa banyak lahan tidur sawit, berapa harga sawit sekarang? Apakah benar, kebun sawit masih perlu mencari lahan-lahan baru?”
“Sekarang ini, masih ada sekitar 4 juta hektar lahan sawit yang belum ditanami. Jika lahan itu ditanam secepat-cepatnya, 10 tahun lagi juga belum selesai. Sehingga tidak ada alasan pertumbuhan sawit terhambat moratorium. Ditambah beberapa tahun pun tak akan terhambat.” lanjutnya.
Dilain pihak Abetnego Tarigan, Direktur Nasional Walhi menyarankan perlu ada Undang-undang tentang penanggulangan perubahan iklim nasional. UU yang berisi penetapan target penurunan emisi nasional dan mengatur upaya mitigasi serta adaptasi perubahan iklim. Karena dikhawatirkan kesimpangsiuran intervensi terhadap upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim akan berdampak pada keputusan-keputusan pemerintah yang ambigu. Kondisi ini, akan mempertajam berbagai ego sektoral yang menyebabkan upaya-upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tak efektif.
Kelompok Kerja Strategi Nasional REDD+ dengan komprominya, Walhi dengan solusi jangka panjangnya berusaha mengambil jalan tengah pergulatan antara emosi kekinian dan keberlanjutan lingkungan bagi generasi yang akan datang.
Generasi yang akan datang membutuhkan kelestarian hutan agar terjaminnya penghidupan yang berkelanjutan. Chamber R dan G. Conway menyebutkan bahwa penghidupan berkelanjutan adalah penghidupan yang memampukan orang/masyarakat untuk menghadapi dan pulih dari tekanan/guncangan, memampukan orang/masyarakat untuk mengelola sumber daya untuk kesejahteraannya saat ini maupun masyarakat pada kehidupan dimasa mendatang, serta tidak menurunkan kualitas sumber daya alam yang ada.
Sehingga esensi permasalahan yang harus dijawab dari semua argumen adalah sanggupkah kita memenuhi kebutuhan sekarang dengan mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan? Tegakah kita berkata bahwa cara keluar dari kemiskinan generasi sekarang adalah dengan membiarkan generasi mendatang ‘sekarat’? Kita dan generasi mendatang memiliki 3 kebutuhan dasar yang sama: pangan, air dan oksigen. Dan ketiganya tidak akan terpenuhi jika hutan punah. Betapa kearifan lokal telah mengajarkan:
Leuweung Ruksak, Cai Beak, Manusa Balangsak... No Forest, No Water, No Future...
Jadi moratorium hutan bukan sekedar komitmen presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono untuk menurunkan emisi hingga 26 %, persoalan ini menyangkut masa depan generasi penerus, karena kita hanya meminjam hutan milik mereka.
***Maria G. Soemitro***
Sumber:
Hutanindonesia.com
Kompas.com
Sawitindonesia.com

cah nom

lain itu para petani kopi juga diberdayakan mulai dari pengetahuan dan keilmuan tentang pemberdayaan pertanian.

pemenang
Dari adanya penampilan kelima finalis tersebut, ide-ide bisnis yang dijalankan tentu berdasarkan kepada perkembangan dunia teknologi juga. Kelima finalis tersebut juga memberlakukan e-marketing melalui dunia internet. Pemaparan yang apik dari finalis akhirnya harus membuat keputusan dewan juri yang sulit. Namun, dalam sebuah perlombaan pasti ada yang menang da nada yang harus menunda kemenangannya. Akhirnya, juri memilih sebagai pemenang yaitu Rumah MC sebagai juara pertama, PLUA sebagai juara kedua, dan Kulit Kayu sebagai juara ketiga. Keberhasilan mereka sebenarnya lebih kepada bagaimana menginspirasi jiwa-jiwa muda untuk aktif dalam berwirausaha.

Sebagai penutup dalam tulisan ringkas ini, penulis ingin menampilkan sebuah pesan dari pembicara tentang bisnis yaitu Semua usaha bisa menghasilkan uang, temukan masalahnya, dan cari solusi bisnisnya. Wujudkan semua ide-ide bisnis dengan passion yang dimiliki, karena passion tak dapat dihentikan begitu saja.
Semoga bermanfaat.


======
sumber gambar:
https://twitter.com/hashtag/bebasberbagikopdar?vertical=default&src=hash
https://twitter.com/hashtag/bebasberbagikopdar?f=images&vertical=default&src=hash

mbah ukik

Siapakah engkau wanita?
Apakah kau dicipta untuk membuat pria jatuh terkapar?
Siapakah kamu wanita?
Sehingga pria lupa siapa dirinya untuk menjadi kumbang atau kupu
yang siap menikmati madu.
Hanya karena senyuman merekah dengan bibir sedikit terbuka
serta gincu merah merona
pria pun menjadi laba-laba
yang mati merana setelah bercinta
Siapakah engkau wanita?
Kaukah bidadari dari nirwana yang mencipta neraka?
0 0 0 0
Siapakah engkau pria?
kau jadi mahluk paling aneh di dunia
matamu selalu jalang dan nanar di antara pesona bunga
tapi luluh lantak walau tak terpanah asmara
hanya terpanggang gelora ingin peluk panasnya dada
Siapakah engkau pria?
Tak bisakah kau seperti angin yang hanya membawa harumnya bunga
tanpa menanti waktu untuk menghisap manis madunya
Siapakah engkau pria?
Kau tak mau pergi dan membiarkan kolibri menghisap sarinya
Siapakah engkau pria?
Mengapa kau tak biarkan wanita tetap menjadi Hawa…

sukses bisnis

FWD Life Insurance bekerjasama dengan dreamlab dan kompas.com membuat sebuah acara bertajuk kopi darat (kopdar) bebas berbagi di café kopi tiam, Senayan Jakarta pada 19 September 2015. Dalam kesempatan acara itu diadakan sebuah talk show terkait bisnis dan passion. Dalam membangun sebuah bisnis kunci kesuksesan utama yaitu adanya passion dan investor.

Berdalih kepada kunci sukses bisnis maka talk show yang diadakan selama kurang lebih tiga jam tersebut menghadirkan pembicara dalam talkshow tersebut, antara lain yaitu Deddi Dahlan selaku CEO Passionpreneur Academy, Paul Setio Kartono selaku CFO FWD Life, Dolli Lesmana selaku CEO DreamLab, dan Indra Uno selaku komisaris PT. Seratoga Investama Sedaya.

Deddi menjelaskan, Passion adalah dorongan dari dalam untuk melakukan sesuatu, hingga melakukan sesuatu itu menjadi kenyataan. “Passion adalah kebebasan,” ujar pendiri Passion Preneur Academy yang terletak di Bandung.

Passion setiap orang berbeda dengan yang lainnya, passion haruslah membuat sebuah terobosan baru dengan menggebrak posisi aman seseorang, sehingga menaklukkan sebuah mimpinya untuk bisa menjadi seseorang yang sukses dengan passion yang dimilikiDeddi melanjutkan dengan memberikan sebuah contoh seseorang yang memiliki passion dengan membuat video tentang dirinya bermain game, dan ini memberikan penghasilan yang sungguh luar biasa.

Ada lagi sebuah contoh terdekat dari Bandung, yaitu seorang tukang bubur bisa menghasilkan omzet yang laur biasa menakjubkan. Dan bahkan selalu dinanti rasa dan kehadirannya oleh warga Bandung. Itu membuktikan bahwa passion itu sederhana namun dengan sebuah inovasi maka akan berdampak pada hasil yang luar biasa. Pada passionpreneur Academy, seseorang diajarkan bagaimana mengenali passion dan memaksimalkan passion yang terdapat dalam diri seseorang tersebut.

Dalam pengembangan passion itu kunci utama yaitu terletak pada nyali seseorang untuk melakukannya, bukan modal yang lebih diutamakan. Dalam penjelasan lanjutannya Deddi memberikan sebuah perbedaan mendasar antara hobi dengan passion. Passion lahir dari keinginan kuat untuk melakukannya. “passion ibarat kebelet pipis untuk bisa segera dikeluarkan,” pungkas Deddi.

Pada kesempatan yang sama, telah hadir pula para finalis passionpreneur tahun lalu yaitu Leonara Adelia (Adel), dan Yuka Herlanda (Yuka) yang juga membagikan sebuah pesan tentang passion yang dimilikinya sehingga bisa menghasilkan uang. Adel menjelaskan bahwa bisnis yang dijalankan pada awalnya bermula dari hobinya yang suka jalan-jalan yang akhirnya bisa menjadikan sebuah bisnis baginya. Sedangkan Yuka menjelaskan bisnisnya diawali dengan kesulitan dirinya menemukan sepatu basket untuk dirinya, sehingga mencari cara untuk membuat bisnis sepatu merk Brodo. Mereka berdua membagikan sebuah passion yang perlu diperjuangkan untuk menjalankan bisnis. Mereka berdua juga menjelaskan di passionpreneur academy juga diajarkan bagaimana mengelola bisnis, memanage keuangan hingga mencari peluang pengembangan bisnis yang dijalani.

Dalam menjalankan sebuah bisnis yang mumpuni dipelukan adanya sustainability dan originality. Inilah syarat berbisnis yang utama. Dalam bisnis tidak diperlukan menjadi pengekor. Artinya, saat orang jual bakso kita juga jual bakso. Begitulah pengandaiannya.

Disaat kesempatan yang sama Paul menjelaskan tentang memanajemen keuangan dalam bisnis. Paul lebih mengedepankan bahwa uang bukanlah hal yang lebih penting, tapi diperlukan pula adanya uang. Hal ini berarti bahwa uang diperlukan dari adanya investor untuk membangun sebuah bisnis.

Paul memberikan pencerahan kepada peserta kopdar berbagi dengan tips manajemen keuangan yaitu

  1. >> bahwa dalam sebuah bisnis, keuangan tidak boleh bercampur antara keuangan bisnis dengan keuangan pribadi, meskipun hanya satu rupiah saja.

  2. >> Pengecekan secara berkala antara pemasukan dan pengeluaran.

  3. >> Diperlukan skills dalam menjalankan bisnis yang digeluti. Dalam hal ini paul memberikan saran bahwa dalam membangun bisnis mulailah dari bisnis yang kecil, lalu bergerak terus hingga bisa membangun bisnis yang lebih besar. Hal ini memberikan sebuah pencerahan bahwa pebisnis akan melihat detail dimana letak peluang, maupun tantangan dari adanya perkembangan bisnis tadi.

Setelah mengetahui tentang manajemen kekuangan, perihal yang tak kalah penting yaitu tentang karakter yang disampaikan oleh Indra Uno. Karakter sangatlah penting bagi pebisnis. Melalui karakter inipula akan terindikasi kelancaran dari bisinis yang dijalankan. Dengan karakter yang kuat dari bisnis yang dijalani, maka investor akan datang dengan sendirinya. Investor dan partnership ini akan menyokong sebuah bisnis yang dijalankan. Tanpa partnership maka bisnis tidak jalan sebagaimana mestinya.

 

Disaat yang sama, diakhir acara kopdar berbagi juga diadakan penobatan kepada juara passionpreneur. Sebagaimana dijelaskan oleh Paul selaku dewan juri yang juga sebagai pembicara dalam talkshow bahwa ada sekitar ribuan lebih proposal investasi dari jiwa-jiwa muda yang berhasil masuk ke meja penjurian. “Ada 3500 lebih ide bisnis anak negeri,” tutur Paul.

Namun, akhirnya terpilihlah 6 finalis yang berhasil membuat keyakinan untuk dewan juri bahwa 6 finalis tersebut mempunyai kekuatan dalam ide proposal bisnisnya. Dari keenam finalis yang diundang pada acara penobatan tersebut, ternyata hanya ada 5 finalis yang hadir yaitu

  1. >>> Anggia Rahendra megenalkan bisnis berbentuk mobile aplikasi yang disebut PLUA yaitu mobile aplikasi untuk bisnis. PLUA akan menunjang aplikasi bisnis seseorang.

  2. >>> Fitri Kumala mengenalkan bisnis pemberdayaan potensi music dan vokal. Fitri, yang juga ahli dalam psikologi perkembangan anak, mengenalkan bisnisnya dengan sebutan Starwannabe. “Edukasi psikologis dan manajemen karir penting untuk pemeliharaan usaha,” ujar finalis yang berasal dari Surabaya ini.

  3. >>> Alisya Faraker mengenalkan bisnis bagaimana mengelola sebuah event dan MC menjadi satu kesatuan yang utuh. Alisya menyebut bisnisnya dengan sebutan rumah MC. Alisya menjelaskan bahwa dunia MC yang berkaitan erat dengan public speaking sangat dibutuhkan dalam segala bidang event yang ada, baik event ceria, maupun event yang lebih khusus yang formal. Oleh sebab itu perlu adanya pelatihan dan pengembangan karir melalui rumah MC yang dimilikinya. “One stop service,” pungkas Alisya.

Alisya melanjutkan bahwa dalam bisnis perlu yang namanya passion. Melalui passion ini bisa menjadi sebuah lahan untuk mencari uang. “Passion to action, passion to profit.”

  1. >>> Ignatius Leonardo menjelaskan tentang bisnisnya yang berorientasi pada lingkungan alam. Yaitu memberdayakan hasil alam menjadi barang berharga seperti tas, maupun dompet. Ignatius menamakan bisnisnya dengan sebutan Rumah Kayu. Meskipun banyak mengambil kayu dari alam, namun Rumah Kayu dalam menjalankan bisnisnya tanpa menebang pohon, dan melindungi satwa dari kepunahan. “Produk kulit kayu 100% ecofriendly,” tutur pria yang aktif dalam komunitas pecinta alam.

  2. >>> Rinda menjelaskan tentang usaha bisnisnya dengan ide sebuah bisinis café dengan memiliki sebuah library dalam café usahanya. Rinda menamakan bisnisnya dengan sebutan Starbook Café. Starbook café jika dilihat ke belakang mirip pengembangan sebuah buku novel yang berjudul Coffee Memory, dimana dalam novel ini juga menjelaskan bahwa sang tokoh yang menyuka coffee mendirikan sebuah café dengan dihiasi buku-buku untuk dibaca pengunjung. Mirip sekali. Namun, Rinda menjelaskan kembali bahwa bisnis yang dijalankannya ini lebih merangkul kepada penduduk sekitar di wilayah Lampung untuk bisa mengembangkan kopi dengan harga selayaknya. Selain itu para petani kopi juga diberdayakan mulai dari pengetahuan dan keilmuan tentang pemberdayaan pertanian.

 

ruang publik

Keberadaan ruang publik sebagai ruang umum yang dimanfaatkan secara bersama tentunya memberikan kewajiban besar sekaligus juga tantangan bagi penggunanya setelah pemerintah memberikan hak bagi warganya untuk memakai secara gratis. Selama ini kita sering membaca, mendengar, maupun melihat keluhan keluhan masyarakat mengenai ruang publik baik itu yang berupa trotoar, alun-alun, taman kota maupun ruang umum lainnya yang disediakan oleh pemerintah untuk warganya. Ada harapan besar bagi setiap warga negara untuk bisa menikmatinya dengan nyaman, aman, dan tentunya gratis.
        Kita sebagai warga negara seringkali mengeluhkan kinerja pemerintah karena kurang memperhatikan keberadaan ruang publik sebagai sarana kita beraktifitas sehari hari baik itu untuk sarana kita bekerja misalnya trotoar agar kita bisa berjalan kaki dengan nyaman atau sarana kita berekreasi misalnya alun alun dan taman kota agar kita bisa berkumpul dengan teman maupun keluarga dengan nyaman. Ada satu hal yang sebenarnya kita sebagai pengguna ruang publik lupa bahwa seringkali kita sendiri tidak memahami fungsi ruang publik sebagai milik bersama tentunya tidak harus berbagi dengan yang lain dalam menggunakannya.
        Kekeliruan dalam memanfaatkan ruang publik seringkali dikarenakan bahwa di antara warga pengguna ruang publik itu tidak ada rasa memiliki terhadap apa apa yang telah disediakan oleh pemerintah. Kita lihat satu contoh kecil adalah pemanfaatan trotoar seringkali trotoar di kota kota besar maupun kecil di Indonesia tercinta ini bukanlah para pejalan kaki yang asyik berjalan dan bercengkarama dijalan. Namun, pemandangan pedagang kaki lima yang justru mendominasi lengkap dengan sampah maupun kotoran lainnya. Tak jarang para pejalan kaki malah kehabisan ruang untuk bisa berjalan di trotoar sebagaimana fungsi trotoar yaitu untuk pejalan kaki. Lebih parah lagi, karena tidak adanya rasa memiliki terhadap trotoar tersebut pedagang kaki lima malah lebih bebas tak terkendali memanfaatkannya tanpa peduli keindahan maupun kebersihan trotoar tersebut.
        Dalam kasus lain, perasaan tidak merasa memiliki warga terhadapa ruang publik dan harus merawat karena sebagai hak milik adalah pada ruang publik yang berupa alun-alun maupun taman kota. Kondisi yang terjadi pengguna alun alun memanfaatkannya tidak secara beradab. Alun alun menjadi sarana jualan, buang air dan buang sampah serta cenderung terjadi vandalisme yaitu dengan merusak fasilitas fasilitas yang ada di dalamnya sehingga warga lain yang mau menggunakannya terganggu karena tidak adanya kenyamanan.
        Kita berharap bahwa ada ruang publik yang nyaman di tempat kita. Kita bebas beraktifitas dengan santai dan nyaman di dalamnya tanpa adanya saling mendominasi di dalamnya. Akan tetapi apakah hal seperti itu bisa terwujud? Tentunya bisa, yaitu dengan menumbuhkan rasa memiliki terhadap ruang publik yang telah tersedia agar semua bisa digunakan bersama dengan aman tentram dan tentunya nyaman sebagai fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah. Tanpa adanya rasa memiliki saya rasa keberadaan ruang publik yang nyaman sebagai sebuah ruang bersama akan jauh panggang dari api. Mari kita jaga ruang publik yang ada sekaligus kita rawat kalau kita tidak bisa meningkatkan fasilitasnya sebagaimana kita menjaga dan merawat harta benda kita.

mlaki sedek

Mendengar nama daerahnya pun kita belum tentu kenal, yaitu Tabalong. Sebuah kabupaten di Kalimantan Selatan yang di tengah hamparan hutan muncul sebuah komplek islamic center dengan gaya arsitektur moderen. Bagaimana bisa di tengah hutan terdapat sebuah komplek islamic center?
Saya tahu Tabalong Islamic Center ini dari blog milik teman saya mbak Ainun, yang mana komplek bangunan mesjid ini dibangun oleh perusahaan tambang batu-bara Adaro tahun 2012. Sebagai salah satu program CSR, mesjid ini dibangun dengan rancangan arsitektur yang sangat bagus sekali. Saya tidak tahu darimana Pak Garibaldi Thohir - sebagai pimpinan perusahaan Adaro memiliki ide untuk membangun sebuah komplek islamic center di situ. Selain dekat dengan lokasi pertambangan, bisa jadi memang karena banyak warga muslim di sana. Tapi mungkin ada konsep lain? misalnya semacam ingin membangun kembali kejayaan kisah kerajaan islam di Kalimantan?
Kita tahu bahwa dulu sekali, di wilayah Kalimantan berdiri sebuah kerajaan Islam yang besar bernama Kutai Kertanegara, lokasinya di sebelah Timur Kalimantan yang sebenarnya tidak jauh dengan wilayah Tabalong yang berada di perbatasan Kalimantan Timur dengan Kalimantan Selatan. Saya berfikir bisa jadi dari sinilah gagasan Pak Garibaldi Thohir membangun komplek islamic center ini. Bahwa akhirnya kebetulan lokasi tersebut pun merupakan wilayah binaan CSR dari grup Adaro.


Dari banyak foto yang saya lihat komplek islamic center ini sangat bagus dan megah. Desain kubah mesjid terbalik yang mirip mangkuk terbuka ini memiliki simbol kedua tangan yang sedang menadah atau memohon - seperti saat kita berdoa. Kaligrafi islam juga menghiasi banyak dinding bangunan. Ornamen bermotif geometris pun jadi elemen yang khas di bangunan-bangunannya. Luas kawasan ini berkisar 2.300 m2 terdiri dari beberapa bangunan besar selain mesjid. Desainnya pun sangat moderen dan keren sekali. Saya pikir Pak Boy - panggilan Pak Garibaldi Thohir memiliki cita rasa seni arsitektur yang tinggi juga. Sungguh makin penasaran saya dengan komplek islamic center ini.

“Adaro sadar bahwa estetika juga menjadi nilai penting bagi sebuah tempat ibadah, seperti Tabalong Islamic Center. Sudah sepatutnya Allah SWT yang menjadi prioritas utama kita, memiliki tempat terbaik di Bumi Tabalong ini”, ujar Garibaldi Thohir, Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk. Dari sini saya rasa sungguh Pak Boy ini memiliki cita rasa seni yang baik. Cerminan ini tampak pula pada bangunan yang mereka sebut Plaza Manasik, bentuknya lapangan melingkar dengan lantai bermotifkan lingkaran geometris yang merupakan ciri dari seni rupa Islam. Konon di Plaza Manasik ini sering digunakan sebagai lokasi simulasi manasik haji.

Secara keseluruhan sungguh komplek islamic center ini sangat mengagumkan. Pak Garibaldi Thohir nampaknya berhasil meracik penggabungan antara komplek islamic center ini dengan spirit warga Tabalong itu sendiri. Nama mesjid di sini adalah Al Abrar yang memiliki makna : kelompok manusia yang gemar melakukan kebajikan untuk lingkungan atas nama Allah SWT. Sebuah makna yang besar dan penuh spirit bagi warga Tabalong.

Kagum, itulah perasaan saya saat tahu akan keberadaan tempat ini. Penasaran, itulah perasaan saya selanjutnya. Ingin rasanya saya berkesempatan main ke komplek islamic center di Tabalong ini. Saya ingin sekali melihat langsung dan memahami gagasan-gagasan inovasi Pak Garibaldi Thohir bersama perusahaannya Adaro lewat serangkain karya arsitektural ini. Semoga saya punya kesempatan itu.. :)

kreasi

Luti Gendang dan Beberapa Minuman yang Tersedia di Anambas Kopitian (Foto @KreatorBuku)
Saya mengambil mie dengan garpu lalu mencoba merasakannya sambil menunggu agak dingin. Memang benar, begitu sampai di mulut mienya terasa pulen dan gurih. Ada sedikit kuah yang rasanya juga gurih. Tanpa terasa mie telah tandas hanya dalam hitungan menit saja.
Saya kemudian melanjutkan makan Luti Gendang yang sejak tadi masih sisa 4 biji. Satu persatu saya habiskan Luti sambil sesekali meminum Thai Tea. Empuknya roti, gurihnya isi roti dipadu dengan Thai Tea yang manis dan sedikit pahit, meninggalkan rasa yang pasti bakal bikin kangen. Thai Tea disajikan dalam drinking jar yang mirip toples kecil.

Mie Tarempa Amanbas Kopitian yang Edun Tenan (Foto @KreatorBuku)
Mie Tarempa merupakan makanan yang berasal dari daerah Tarempa, Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau. Mie ini diolah sendiri oleh penjualnya dari tepung dan telur. Ada tiga jenis mie yang biasa disajikan, Mie Tarempa Basah, lembab, dan kering.
Adapun Luti Gendang adalah roti dari tepung berbentuk lonjong yang diisi abon dan digoreng. Terkadang ada juga isi ikan tongkol, ayam, keju, atau kelapa. Kedua makanan ini menjadi makanan yang sangat khas, yang jarang sekali dijumpai di tempat lain.
Karena saya masih penasaran dan sore ini saya akan mengudara di salah satu radio, saya memesan sekantong Luti Gendang. Bukan karena masih lapar, melainkan karena saya mulai doyan.
@KreatorBuku
Kuliner lainnya bisa dimakan di sini;
1. Bajigur Durian Asoy di Bandung Barat
2. Sup Kaki Restumande yang Bikin Hangat
3. Jengkol Rasa Cafe di Bandung
4. Barbequan di Cawan Kitchen di Bandung

P K I

Hari ini genap 50 tahun kita hidup di bawah bayang-bayang sebuah peristiwa tragis dan pilu yang kerap kita sebut sebagai peristiwa G30S PKI. Tentang tanggal dan bulan persis kejadian itu masih menjadi perdebatan hangat di antara para peneliti sejarah. Demikian juga dengan jalan cerita, aktor intelektual, dan berbagai hal tentang kejadian itu masih diperdebatkan. Secara garis besar, ada dua versi sejarah seputar kejadian tersebut yang kini beredar di masyarakat. Pertama, versi resmi yang dikeluarkan pemerintah (Orba) dan versi baru yang dicetuskan sejumlah peneliti sejarah terutama pasca berakhirnya hegemoni Orba. Terlepas dari versi mana yang benar dan paling mendekati kebenaran historis, peristiwa tersebut tak bisa dipungkiri telah membawa malapetaka maha dasyat bagi ratusan ribu bahkan jutaan warga negara ini selama puluhan tahun.
Empati Kepada Korban
Seperti  kita tahu, beberapa minggu setelah peristiwa penculikan dan pembunuhan tokoh-tokoh dan para petinggi militer Indonesia yang ditenggarai didalangi PKI pada tahun 1965, terjadi gelombang pembunuhan massal di sejumlah daerah dengan slogan “memberangus antek-antek PKI”. Ratusan ribu warga Indonesia meninggal, dibunuh oleh warga negara Indonesia sendiri, bukan oleh penjajah atau bangsa lain. Yang lolos dari pembunuhan massal itu dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan. Yang lolos dari penjara diberi stigma negatif sebagai antek-antek PKI. Hak-haknya sebagai warga negara dibatasi.
Menjadi amat mengherankan bahwa bahaya dan ancaman PKI terus menerus disuarakan hingga puluhan tahun sesudah peristiwa itu dan terus memakan korban. Kampanye anti PKI menjadi jualan laris manis dan tak jarang ditunggangi sejumlah pihak untuk menjatuhkan lawan-lawan mereka. Sangat mudah mencap orang sebagai PKI dan memberi sanksi atas cap tersebut. Saya teringat dengan sebuah peristiwa di masa kecil ketika ada pembagian sembako dari pemerintah di kampung halaman. Seorang tetangga kami tidak mendapat bagian. Kepala Desa dengan geramnya menerangkan bahwa tetangga tersebut merupakan antek PKI.
Buktinya, menurut Kepala Desa, dalam pemilihan umum tetangga tersebut tidak mencoblos partai yang dianjurkan pemerintah. Saya tentu belum begitu paham waktu itu letak masalahnya, tapi saya ingat memang ada embel-embel partai berwarna merah di depan rumah tetangga kami sementara semua warga kampung menggunakan embel-embel partai penguasa berwarna kuning. Karena ulah tetangga tersebut, Kepala Desa gagal mewujudkan janjinya memberikan suara seratus persen kepada partai penguasa. Karena itukah tetangga itu dimusuhi dan dicap PKI?
Barangkali contoh kasus yang saya ajukan dari masa kecil saya di atas agak remeh jika dibandingkan dengan kasus-kasus ekstrem di berbagai daerah lain. Poin yang hendak saya tunjukkan adalah betapa mudahnya mencap orang di masa lalu sebagai antek, pengikut, anggota atau apalah namanya, dari sebuah partai, organisasi atau aliran tertentu. Di masa sekarang saja, ketika orang sudah lebih berpendidikan masih banyak anggota masyarakat yang ikut begitu sebuah organisasi walau tak jelas dipahaminya arah dan tujuan organisasi tersebut. Mereka senang saja menerima baju, atribut-atribut atau sumbangan lain dari organisasi itu. Jika ternyata organisasi itu jahat, layakkah menyalahkan semua orang yang pernah bersentuhan dengannya?
Jangan-jangan ada banyak orang yang dicap PKI di masa lalu justru tidak mengerti sama sekali apa itu PKI. Mereka senang saja diberi cangkul dan bantuan-bantuan lain. Mereka tidak pernah mendengar bahwa PKI itu anti agama seperti sering dituduhkan sejumlah pihak. Dari kisah-kisah kehidupan para keluarga korban di buku dan media massa justru saya menemukan orang-orang yang taat beragama.
Maka marilah menggunakan sudut pandang kita pertama-tama ke penderitaan para korban, bukan kepada PKI. Pendekatan seperti itu penting untuk menjawab keresahan dan kegundahan sejumlah pihak yang akhir-akhir bersuara agak keras di media massa atas adanya wacana Presiden meminta maaf kepada PKI. Kini berdegung-degung lagi peringatan dan kewaspadaan terhadap bahaya laten PKI. Tapi peringatan seperti ini tidak akan menyelesaikan persoalan apapun. Akan lebih baik kita melupakan PKI dan berekonsiliasi dengan para korban tragedi kemanusiasaan yang pernah terjadi di negeri ini.
Kebenaran Sejarah
Catatan sejarah menjadi bermakna jika berisi kebenaran. Bukan rekayasa. Tanggungjawab terhadap kebenaran tersebut tidak hanya berada di pundak para sejarawan, tapi juga di pundak semua orang yang akan menggunakan sejarah tersebut. Dengan kata lain kita semua di negeri ini bertanggungjawab akan sejarah yang benar dan bermakna. Andai saja semua masyarakat Indonesia secara a priori membantah ada pelanggaran HAM di masa lalu maka rekontruksi sejarah atas peristiwa tersebut tidak akan pernah bisa berlangsung dengan dengan baik karena rekonstruksi sejarah juga dipengaruhi oleh kondisi sosial dan psikologis masyarakat yang akan menerima sejarah tersebut. Karena itu kita perlu secara dewasa mengakui kesalahan masa lalu dan berdamai dengan masa lalu tersebut.
Dengan begitulah sejarah yang baik dan benar dapat dituliskan untuk sebagai pembelajaran di masa yang akan datang. Tepat kiranya sebagai penutup meminjam kutipan dari seorang sejarawan Jerman:  “Objektivitas historis tidak terpaku pada rekonstruksi peristiwa masa lalu apa adanya, tapi juga rekonstruksi masa lalu dalam terang masa kini”.

Rio Manalu

/riomanalu

TERVERIFIKASI (HIJAU) Suka baca sastra, tapi bukan sastrawan; ngerti dikit tentang Filsafat, tapi bukan filsuf; Gemar menyimak berita dan ulasan politik, tapi bukan pengamat politik; Jarang absen nonton bola, tapi hanya ngefans sama Arsenal
Selengkapnya...

0
6
0
0

salim kancil 5 irene

Sebagai warga kota, bolehlah saya ikutan bersuara menanggapi ajakan Kompasiana bersama Kemen PUPR untuk berkompetisi menulis mengenai kebutuhan ruang publik.
Artikel ini saya tulis, bukan terutama untuk berkompetisi, namun hanya sekedar bersuara, karena saya berasumsi jika ikut menulis di ajang ini, pemerintah sebagai pihak yang berwenang pasti membacanya.
Yang di kompetisikan adalah kebutuhan ruang publik, berarti ruang untuk kepentingan saya dan teman-teman warga kota. Maka sebagai warga kota, saya ingin mengemukakan apa yang saya rasa sangat kami butuhkan.
Apakah itu? Sebenarnya sederhana saja.
1. Trotoar atau Pedestrian yang nyaman dan aman. Mengapa? Supaya warga kota, teransang untuk berjalan kaki, sehingga menjadi lebih sehat, menghemat biaya transpor dan  turut mengurangi polusi, jika kendaraannya diparkir di rumah.
2. Taman yang nyaman dan indah. Mengapa? Supaya jika warga sudah penat berjalan bisa beristirahat sejenak, menjadi tempat pertemuan sesama teman, juga menjadi tempat bermain anak-anak dan sekaligus menjadi paru-paru kota.
3. Tempat makan yang enak, sehat dan layak di tempat-tempat strategis, namun bertarif kaki lima. Mengapa? Karena pedagang makanan emperan dan kaki lima sudah pada digusur, lalu tidak ada penggantinya. Banyak rumah makan tapi sayang, tarifnya tidak terjangkau oleh para pelanggan warung kaki lima yang sudah tergusur.
Dengan koordinasi dan pembinaan yang baik, kepada para pedagang makanan, mutu dan kebersihan bisa lebih terjamin. Konsumen  sehat, imbasnya biaya BPJS menurun. Para pedagang pun tidak kehilangan mata pencahariannya.
4. Tempat parkir bertarif murah. Mengapa? Supaya warga bisa memarkir kendaraannya, sebelum melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum. Tarif murah supaya tidak membebani, walau harus parkir berjam-jam. Hal ini bermanfaat mengurangi kemacetan, menghemat BBM dan mengurangi polusi udara.
5. Toilet umum yang bersih dan manusiawi. Jangan ada toilet, tetapi tidak ada air. Di jalan raya di Kebayoran Baru, selokan dan kali sering menjadi sasaran tempat..., terutama pada subuh dan malam hari, ketika daerah sekitar masih atau sudah sepi. Ini hanya sebuah contoh, boleh telusuri tempat-tempat yang lain.
Inilah suara hati dan pengamatan seorang warga kota, semoga berkenan dan menjadi perhatian, untuk segera dilaksanakan. Terima kasih.

ssssssalim kancil 3

INI untuk pertama kalinya saya ke Batam dalam rangka training kepenulisan bareng temen-temen Forum Lingkar Pena Batam. Rasanya luar biasa karena sejak mendapat undangan acara di Batam, ada beberapa agenda yang langsung masuk file di kepala saya.
Bukan hanya agenda training, melainkan agenda tambahan seperti menjelajah Kampung Vietnam dan merasakan dua makanan khas yang hanya ada di Batam dan sekitarnya, Luti Gendang dan Mie Tarempa.
“Kita makan dulu ya, Kang,” Kang Soleh, salah seorang panitia sekaligus sponsor acara langsung menawarkan untuk makan, begitu saya sampai di Bandara (Batam).
“Luti Gendang dan Mie Tarempa, Kang?” Saya langsung menawar. Membuat Kang Soleh yang asli warga Cianjur Jawa Barat tersenyum lebar.
Mobil pun meluncur meninggalkan bandara. Sepanjang jalan, Kang Soleh cerita tentang Batam yang sampai sekarang terus berkembang. Batam yang saya pikir sudah menjadi Kota Metropolitan, ternyata masih terus bebenah.
Kurang lebih tiga perempat jam kemudian, mobil memasuki sebuah komplek ruko. Mobil berhenti di sebuah penginapan. Saya cek in terlebih dahulu sebelum makan supaya barang bawaan tidak memberatkan.
Saya pikir tempat makannya jauh, ternyata hanya beberapa puluh meter saja dari tempat saya menginap. Sebuah tempat makan yang terlihat sangat bersih. Saya baca tanda rumah makan di depan, “Anambas Kopitian.”
Anambas Kopitian menyediakan beberapa menu makanan khas dari Pulau Anambas. Beberapa makanan khasnya terkenal di Batam. Ada Mie Sagu, Nasi Dagang, Mie Tarempa, Luti Gendang, Soto Ayam, dan Ayam Penyet. Berbagai macam minuman juga disediakan.
Suasana Anambas Kopitian Komplek Palm Spring Blok A2 No. 9-10 Batam Center (Foto @KreatorBuku)
Saya dan teman-teman panitia langsung mengambil tempat duduk di tengah. Saya melihat meja-meja yang ada di sana, sepertinya ada yang berbeda. Jika biasanya rumah makan ukuran mejanya seragam, di Anambas Kopitian ukurannya dibuat berbeda, sehingga pengunjung bisa memilih dan menyesuaikan. Jika sendirian bisa ambil meja yang memang disetting untuk sendirian, jika rame-rame memilih meja panjang yang cocok untuk rame-rame.
Setelah membaca menu, saya memesan Mie Tarempa Goreng Lembab, Thai Tea, dan Luti Gendang untuk camilan. Mie Tarempa Goreng Lembab sebetulnya sama dengan mie goreng yang di mana pun, hanya mienya terasa empuk dan gurih. Bumbunya juga terasa rempahnya, jadi bukan seperti mie goreng instan. Sementara Luti Gendang, sejenis roti goreng dengan isi abon ikan.
Sebelum mie pesanan datang, Luti Gendang yang sejak datang ke Batam sudah mengiang-ngiang di telinga lebih dahulu dihidangkan. Ada 5 biji Luti yang disajikan dalam wadah rotan mungil yang cantik. Saya mengambil satu dan langsung menggigitnya. Masih terasa hangat sehingga abon yang ada di dalamnya terasa sekali gurihnya.
Belum habis satu butir Luti Gendang, mie pesanan datang dengan porsi yang lumayan. Mie ditaburi potongan ikan, daging sapi, toge, dan taburan bawang goreng. Masih ada asap yang mengepul, tanda mie baru diangkat dari dapur.

salim kancil 3

Negara Setengah Merdeka 
Dr. Slamet Muliono
Berbagai ironi masih terdengar, baik sayup-sayup maupun berdengung, di tengah perayaan hari kemerdekaan di negeri ini. Betapa tidak, sebagai bangsa yang mengumumkan bebas dari penjajahan 70 tahun yang lalu, tapi kita jumpai kondisi masyarakat kita seperti dalam keadaan terjajah. Bila di lingkungan perkotaan, banyak ditemui warga asli atau pribumi hidup dalam serba keterbatasan, miskin dan bahkan bekerja sebagai pekerja kasar atau buruh pabrik dengan pendapatan yang hanya untuk bertahan hid up. Terlebih lagi bila kita telusuri kehidupan masyarakat pelosok atau pinggiran desa, maka lebih mengenaskan khususnya ketika tanah dan ladang mereka sudah terjual dan dibeli oleh para kapitalis kota.
Sebagai bangsa besar karena jumlah penduduk banyak, wilayah luas, dan sumberdaya yang melimpah, tetapi mayoritas penduduknya kurang memiliki kualitas hidup yang layak dan tentu akan sulit bersaing di tingkat global. Hal ini bisa dilihat dari skill yang dimiliki oleh kebanyakan warga yang sangat rendah sehingga kurang diperhitungkan oleh pihak lain. Bahkan yang lebih miris lagi, sebagai bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang beradab dengan perilaku sopan dan santun, saat ini ini mulai mengalami pergeseran. Pergeseran itu bisa dilihat dari sifat tidak jujur, tidak disiplin, sehingga kurang menunjukkan masyarakat yang berkualitas. Kita juga sering mendengar dan melihat tontonan perilaku kekerasan dan tingkah laku biadab, seperti tawuran antar warga atau antar pelajar, budaya merusak yang ditunjukkan generasi muda seperti para pengendara moge (motor gedhe), atau geng motor. Hal ini semakin menurunkan harkat dan martabat sebagai bangsa yang beradab.
Sebagai bangsa yang sering mendengungkan sportivitas dan kejujuran, tetapi yang terjadi adalah banyaknya tradisi jalan pintas dan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Hal ini menjadikan anak bangsa ini tidak siap bersaing secara sportif dan terjerumus pada budaya tidak siap kalah dari segala bidang. Kondisi yang demikian pada akhirnya akan memproduksi budaya inferior di tengah superioritas orang lain. Dalam tataran empirik, sering kita dengar seruan untuk mengajak dan menggunakan produk lokal, bahkan pemerintah dengan berbagai kesempatan menyelenggarakan berbagai momen untuk mengiklankan pentingnya mempergunakan produk lokal.
Pameran dikemas begitu menarik guna menyadarkan masyarakat untuk mempergunakan produk dalam negeri, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kebanyakan warga justru bangga dan senang dengan produk impor. Ketika pemerintah dan pemerhati menggalakkan konsep pemberdayaan masyarakat dengan mencintai produk lokal, tetapi produk impor justru terus membanjiri pasar-pasar lokal dan tradisional. Masyarakat lebih senang dan bangga makan di restoran Kentucky Fried Chicken atau Mc Donald, dan minum Coca-Cola, Sprite serta Fanta daripada menyantap produk-produk lokal dan warung-warung tradisional. Masyarakat lebih bangga mengenakan baju, celana, sepatu sandal impor daripada produk dalam negeri.
Sebagai bangsa yang melandasi hidupnya dengan nilai-nilai agamis dan di setiap pembicaraan terus mendengungkan hidup harus berlandaskan agama, tetapi perilaku menyimpang dan tidak amanah semakin besar. Hidup koruptif juga masih kita lihat pemandangan umum di negari kita, mulai level atas hingga bawah. Betapa banyak perilaku pejabat atau rakyat yang diberi amanah, tetapi justru menyimpang dan menyuburkan budaya korupsi itu. Kasus-kasus korupsi bukan semakin surut tetapi justru semakin massif dan bertindak secara kolektif, padahal lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus gencar menangkap dan menghukum berat pelakunya. Bukankah amanah dalam menjalankan tugas akan membawa keberhasilan pribadi dan berdampak munculnya kesejahteraan sosial. Kita bisa lihat rujukannya dalam Islam ketika seorang raja mempercayakan Nabi Yusuf kedudukan yang tinggi karena memiliki kapabilitas dan kapasitas yang bagus, sehingga dia dipercaya. (lihat QS. Yusuf : 55)
Bahkan yang lebih ironis lagi, kita dikenal sebagai bangsa agraris, karena memiliki wilayah yang luas dan subur untuk ditanami produk-produk pertanian. Namun faktanya, kita tidak hanya kurang mampu memproduksi hasil pertanian yang unggul dan kompetitif, tetapi justru mengimpor dari negara lain. Kita sulit menalar bahwa beras, kedelei dan produk pertanian yang lain didatangkan dari negara lain karena harganya lebih murah dan kualitasnya lebih bagus. Beberapa minggu yang lalu, masyarakat sempat kehilangan stok daging, karena tidak tersedianya daging di pasaran. Ini semakin memperburuk citra bangsa ini sebagai bangsa yang besar tetapi tidak memiliki kualitas yang bisa diandalkan.
Pekerjaan besar yang kita lakukan saat ini bagaimana meningkatkan standar dan kualitas sumber daya manusia untuk mengelola sumberdaya alam yang melimpah. Sumber daya manusia yang berkualitas akan siap bersaing secara sehat, sehingga menghasilkan produk yang unggul dan kompetitif. Hal ini bukan hanya menghasilkan devisa negara dan menghidupkan daya saing, tetapi akan mengangkat harkat dan martabat bangsa yang saat ini lebih terpuruk daripara era sebelum merdeka. Bukan saatnya mengedepankan dan membanggakan kuantitas dan meremehkan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Ini hanya akan melahirkan generasi bermental marginal dan melestarikan neokolonialisme.  Penjajahan.
Surabaya, 18 Agustus 2015

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.