Matahari enggan tersenyum siang ini. Basahkan kembali baju-baju yang
baru saja terjemur. Terlambat. Hujan jatuh saat aku hendak beranjak.
Berlari pun akan percuma. Jangan salahkan hujan, sebab turunnya adalah
jawaban doa tanah-tanah gersang.
Aku sedikit lega. Kali ini
hujan samarkanku dari malu. Butir-butir air mata yang tertahankan, jatuh
juga. Tangis selalu punya alasan yang mungkin tak seorangpun mau
dengar. Aku tak menuntut telinga untuk menelannya. Cukup aku dan hujan
saja yang rasa.
Setibaku di sini, hampa terasa. Sesuatu telah
tercabut dari dalam jiwa. Mungkin tertinggal di stasiun kereta. Aku
harap, tak seorangpun menemukannya. Tidak juga kau! Lebih baik terinjak
atau terlindas roda kereta.
Sejujurnya, aku belum rela. Tentang
sebuah malam di mana kita ciptakan rasa bersama. Malam di mana kita
telurkan cinta, lalu mengeraminya di balik peluk hangat pemberianmu.
Kini yang tersisa hanyalah rindu.
Kenang asyik mengaduk-aduk
cangkir rasa, buatku gembira sesaat sebelum pada akhirnya terjatuh pada
kesedihan yang sangat. Kenang memang keparat! Buat jiwaku sekarat dan
rindukupun mengarat!
***
“Keretaku pukul lima sore.”
“Aku akan tiba di sana setengah jam lebih awal.”
“Apa yang kau rasa?”
“Bahagia.”
“Meskipun kita belum lakukan pertemuan sebelumnya?”
“Tentu saja, dan ini akan jadi awal temu yang indah.”
Kuputuskan
percakapan. Bangku depan terisi sudah. Dua orang. Tampaknya sepasang
kekasih, terlihat dari cara mereka yang saling kaitkan jari. Sungguh aku
iri, padahal tak lama lagi aku akan bisa lakukan itu. Kaitkan jari
denganmu.
Solo. Berikanku waktu untuk merenung, sementara kereta
naik-turunkan rindu. Manusia-manusia yang rindu akan keluarga,
pekerjaan dan juga bahagia. Aku bisa melihatnya dari gurat-gurat yang
terlukis pada wajahnya.
Roda kereta kembali berderit. Dan telah
bersiap tempuh stasiun terakhir. Tugu. Tetiba aku lupa rupa. Rupamu yang
telah puluhan banyaknya tersimpan pada telepon genggam milikku. Jatung
berdegup. Aku gugup. Tak mampu lagi pikirkan apa yang akan terjadi saat
aku menatapmu.
Rasanya, aku mau pulang saja. Tapi terlambat
sudah. Aku harus bersiap untuk menemuimu. Lebih baik kubayangkan yang
terburuk hingga tak banyak telan kecewa saat apa yang nyata tak sesuai
harap.
Aku telah sampai. Stasiun tugu. Aku tak mau buru-buru.
Kuputuskan rela mengantri dengan nomor urut sepuluh hanya untuk poleskan
bedak dan pertebal lipstik dalam toilet. Aku tak pernah peduli rupa,
namun kali ini berbeda.
“Kau di mana?”
“Di pintu keluar. Berharap sosokmu segera kutemukan.”
“Lima menit lagi akan kau dapati diriku.”
Lagi,
telepon berdering. Selalu tak mampu acuhkan. Rasa ingin tahu dahului
malu. Ataukah cinta memang tak pernah punya malu? Aku tak mau hakimi,
sebab belum ingin jatuhkan hukum padanya.
Sepertinya aku sudah
siap pada sebuah perjumpaan. Berulang kali cermin katakan: Kau cantik.
Aku setuju. Itu artinya bahwa aku masih gadis, bukan perjaka.
Aku
rasakan anak tangga satu-satu. Menarik napas dalam-dalam sebelum aku
keluarkan bersama bahagia. Hati dan pikirku tengah berkompromi, mengatur
apa yang hendak bibir perkatakan kelak.
Berjalan di belakang
pria tambun buatku mudah temukanmu tanpa kau sadari keberadaanku. Kau
tampak kebingungan sebab telah begitu lama tunggumu tanpa hasil.
Kuputuskan untuk akhiri pencarianmu.
“Mencariku?”
“Tidak lagi.”
Tawa
terlepas. Itulah yang pertama kita lakukan. Sesekali kucuri senyummu
lalu buru-buru menyimpannya dalam kotak kenang. Aku akan membukanya kala
rindu todongkan rasa tuk bertemu. Kita lebih banyak terdiam untuk
saling menyerap raut muka sebelum putuskan saling dekap.
“Sekarang malam minggu bukan? Kemana kau ingin habiskan waktumu denganku?”
“Kedatanganku
ke tempat ini bukan untuk bicarakan kemana akan kita cari bahagia.
Sebab, bisa berada di sampingmu adalah bahagia yang mahal.”
“Habiskan saja waktu kita dalam peluk malam ini.”
Kita
telah menjadi paham bukan? Sebuah perjumpaan yang sangat sayang bila
dipergunakan untuk hal yang percuma. Lebih baik kita pelajari apa arti
cinta yang sesungguhnya dari pada beku dalam kata.
***
Aku
telah berada di tempat ini. Berdua denganmu. Tubuhku mendidih kala kau
sentuhkan bibirmu pada kening, selanjunya terjun bebas ke bawah untuk
melumat lidahku. Sungguh tak percaya, di mana aku telah lakukan hal gila
denganmu.
Semacam ciuman penghabisan, di mana
kau dan aku bertukar liur di antara cumbu-cumbu liar. Aku tak bisa
mengakhirinya, begitu juga denganmu. Kita telah melakukannya hingga
hampir pagi. Bagi kita, lepaskan lumatan adalah dosa. Lanjutkan saja,
saling menggigit hingga rindu tak lagi terasa.
“Kau tak bosan, Mas?”
“Adakah cinta berkawan dengan bosan?”
“Sungguhkah kau cintaiku?”
“Apa aku harus mengawinimu untuk tunjukkan itu?”
Lebih
baik tak kuteruskan jawab, sebab akan percuma. Fokusmu hanya pada peluk
dan cumbu. Kau begitu sibuk hangatkan diriku dengan sejuta peluk yang
telah lama kau janjikan. Aku menyadari bahwa kau ingin lunasi janji.
Cumbumu
adalah kenikmatan yang pahit. Dan relaku kau jadikan pahit. Lakukanlah
hingga hampir pagi. Buat malam enggan dengar desah pada kamar tengah.
Jangan berhenti hingga siang berani tampakkan diri.
Jemarimu
senang berlama-lama mainkan ujung rambut sebelum kau pilih akhiri
jejak-jejak cumbu pada keningku. Harus kuakui bahwa kau tak hanya lumat
habis bibirku namun juga hatiku.
***
Kita telah tiba
pada sebuah perpisahan setelah semalam lelah mainkan desah. Sudah
kukatakan sebelumnya padamu bahwa aku begitu benci sebuah pertemuan
sebab akan lahirkan kepedihan yang menyakitkan.
Aku lihat, kau
sibuk palingkan sedihmu pada cerita lucu dan tawa palsu. Kau coba
hadirkan ceria seperti awal pertama jumpa. Perpisahan telah di depan
mata, akuilah itu. Terimalah dengan hati yang tanpa berontak dan mata
berkaca.
“Mas, keretaku sebentar lagi. Aku harus segera naik atau akan tertinggal.”
“Naiklah. Aku akan pergi bila ekor kereta tak lagi tampak.”
“Berjanjilah untuk lepaskan sedih.”
“Pasti.”
Aku
di kereta. Tugu adalah pembatas kisah kasih yang terajut semalam.
Sementara orang-orang sibuk lalu-lalang, segera kusembunyikan air mata
yang tak tertahankan. Aku benci perpisahan!
Sudah saatnya aku
pergi dan yang telah terjadi harus diakhiri. Buah-buah kenikmatan yang
pahit harus dipetik untuk kemudian dihanguskan. Dihilangkan hingga tak
berbekas. Biarlah rindu tercecer di sepanjang rel kereta sebab aku
takkan pernah memungutnya kembali.
Semua tentangmu harus
terhapuskan segera. Sebuah perpisahan yang akan akhiri segalanya. Bila
sanggup kucuri masa lalu, aku memilih untuk tak mengenalmu dan kemudian
memulangkan rindu hingga aku tak perlu menjemputnya seperti kemarin.
Kau
datang tak terduga, seperti pencuri yang tak pernah permisi. Hianatnya,
aku telah cicipi manis cinta dan juga peluk cumbumu. Aku malu pada
kotak kenang, sebab aku telah menyekatnya jadi dua dan mengisinya dengan
kisah yang berbeda.
***
Bulan terluka pada tanah basah.
Tak lama lagi akan membusuk pada cinta yang terkutuk. Hujan turun
luruhkan rasa. Derasnya paksaku rela. Sebuah air mata yang jatuh pada
nama yang salah. Namamu.
Bila rindu paksaku kembali padamu, akan
kubawa serta kematian dan kutikamkan pada jantungmu. Berhentilah
bernapas. Berhentilah berdesah. Berhentilah bercumbu. Berhentilah
berkata: Aku menginginkanmu.
Aku harus segera lupakan ciuman
terakhir di stasiun kereta juga desah pada kamar tengah. Adalah sebuah
kesalahan telah biarkan kau gauli hasratku. Pergilah ke neraka yang
jangan pernah kembali, sebab aku telah bersuami.
----bersambung----
sebuah cerpen dari puisi Khrisna Pabichara "Semacam Ciuman Penghabisan" | unduh ebook Melankoli Warung Kopi djebeng wangsitaladja karangkonang winong pati jateng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar