Tidak ada angin tidak ada badai,
tiba-tiba Presiden keenam Indonesia, Pak Beye menyatakan akan pasang
badan bila TNI akan melakukan kudeta. Pernyataan tidak biasa itu memang
sangat kontekstual ketika dikemukakan di depan bedah buku "Transformasi
TNI: Dari Prajurit Kemerdekaan Menuju Tentara Profesional dalam
Demokrasi" karya Letnan Jenderal (Purn) Agus Widjojo di kantor Centre
for Strategic and International Studies. Meskipun kontekstual namun
perlu dimengerti posisinya sebagai Presiden keenam. Pemilihan mantan
presiden seolah-olah begitu lengser dan tidak lagi menjabat sudah lepas
tangan, lha paspampres saja masih kog. Bukan pasukan pengamanan mantan
presiden kan?
Pernyataan yang disampaikan bukan presiden,
pengamat, atau militer tentu akan berbeda reaksinya. Melihat sikap
beliau selama ini, hal ini ada unsur kesengajaan. Atas alasan apa yang
menjadi latar belakang?
Stand up Comedy
Seperti
biasanya, bagaimana Pak Peye seolah membuat lelucon dalam bertindak.
Anehnya beliau ini kan tipe serius beda dengan Pak Jokowi atau Pak Ahok,
namun kelucuannya tingkat dewa dan melebihi Srimulat. Apalagi puternya
juga ikut-ikut ngomik, baru saja mengatakan i want back SBY. Hal
yang senada dengan isu soal kudeta. Lucu-lucuan karena tentara,
intelijen, ataupun presiden sendiri tidak pernah melontarkan isu ini.
Atau mirip soal pilkadasung waktu itu, ketika direspon dewan dengan
lucu, rakyat marah,beliau pura-pura lupa? Untung tidak ada yang tertawa
dan tepuk tangan kali ini.
Iri
Soal
gelar kehormatan dari TNI. Beliau setelah sekian lama menjabat baru
diberikan gelar warga kehormatan. Kalau tidak salah ingat lebih dari dua
tahun. Pak Jokowi yang beliau pandang sebelah mata, karena bukan
militer, tidak sampai satu tahun telah memperoleh gelar yang sama. Wajar
kalau beliau mengatakan isu bahwa TNI dilarang kudeta, kalau tidak
berhadapan dengan Pak Beye. Enakan Pok Jokowi ngumpet, kan badannya
kecil banget, ide bagus kalau begitu.
Tentara berangkat ke
daerah yang sedang panen kabut. Padahal beliau 10 tahun alami yang sama
tidak ada pergerakan itu. Padahal beliau sebagai jenderal tahu persis
kerja tentara itu bagaimana, eh ketika Pak Jokowi yang sipil bisa, ada
isu begini. Nampaknya jauh kalau tentara akan melakukan kudeta, ingat
ada banyak tentara yang baik di pemerintahan. Baik secara konstitusi
ataupun kesetiaan pada negara dan pemerintah. Ada Pak Luhut, Pak
Wiranto, Pak Hendro Priyono, Pak Ramisyad ada pula Pak Sutiyoso yang
kabin.
Mengganti panglima dan kepala staf dengan mulus. Bisa beliau sakit hati kog aman dan tidak ada gejolak ya? He...he....
Akan
berbeda dengan polisi, yang sangat tidak mulus dalam pemerintahan kali
ini. Ada saja riak yang menggoda pemerintahan. Kapolri yang
pencalonannya ribet karena adanya kasus di KPK. Perselisihan dengan KPK,
dan kinerja Pak Budi W yang “luar kendali.” Polisi yang lebih “liar”
dari pada TNI. Alasan kurang bisa masuk akal kalai dinyatakan ada isu
kudeta.
Belum lagi tentara malah banyak mengambil peran positif
dalam segi keamanan bukan langsung, seperti menangkap berbagai mafia,
ikut bersihkan kali Ciliwung. Padahal selama beliau di puncak kekuasaan
beberapa hal iti tidak ada.
Unjuk Gigi
Merasa
lebih sebagai tentara. Di hadapan para tentara, buku tentara, wajar
supremasi atas sipil bisa timbul. Intimidasi secara tidak langsung,
meskipun tidak pula berperan.
Merasa paling demokratis. Beliau
selalu menyatakan diri sebagai demokrat sejati sama dengan partai
miliknya, meskipun sering lucu demokrasinya. Pernyataannya hendak
mengatakan jangan seperti orang lain, namun seperti saya yang
demokratis, kalau ada yang mengganggiu demokrasi berhadapan dengan saya.
Apakah benar?
Ada
dua kemungkinan memang bisa iya meskipun sangat kecil. Kecil
kemungkinan Pak Sutiyoso selalu kepala intelijen dikadalin anak buahnya
dan melapor ke Pak Beye. Namun kemungkin sekecil apapun perlu ditanggapi
dengan serius. Jika benar, aneh ketika berteriak, bukannya lebih baik
kalau bicara langsung ke presiden. Demi bangsa dan negara terutama
demokrasi yang beliau agung-agungkan.
Lebih buruk kalau itu
tidak ada, presiden berbicara atas dasar kalau, andai, dan jika. Sayang
sekali, implikasinya sangat besar lho, jangan dianggap biasa, karena
yang menyatakan adalah presiden keenam.
Cara bicara
antarpresiden perlu banyak belajar dari Pak Habibie. Bagaimana beliau
selalu menempatkan diri sebagai senior, bapak bangsa, negarawan,
memberikan masukan secara khusus, tidak perlu berkoar-koar, apalagi
melalui media sosial. Komunikasi antarelit yang bisa menyejukkan bagi
bangsa bukan malah menambah keruh keadaan.
Mengapa seolah kalau berganti seperti tidak memiliki tanggung jawab? Karena mantan, bukan
lagi presiden yang memiliki tanggung jawab dan perasaan memiliki.
Presiden akan selalu melekat karena berkelanjutan. Memangnya bisa peran
Pak Karno , Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Bu Mega, dan Pak Beye itu
dibuang dan dianggap tidak ada, sama sekali tidak bisa. Mau tidak mau,
suka tidak suka, ataupun rela atau berat hati tetap saja ada hal yang
ada di masing-masing pribadi itu hingga detik ini.
Bukan mantan,
namun presiden terdahulu. Lihat pembicaraan pilkada serentak itu bukan
hanya kali ini, BPJS juga bertahun lalu. Pemilu presiden langsung telah
digagas sejak Pak Habibi.
Salam Damai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar