Sebagai generasi yang lahir pada tahun 1960an, dan besar di tahun
1980an, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, 01 Oktober, yang sebelumnya
didahului adanya peristiwa Gerakan 30 September PKI atau juga bisa
disebut Gestapu PKI sudah merupakan kegiatan rutin melihat film
Pengkhianatan G30s PKI, baik lewat layar TVRI (karena cuma satu-satunya
stasiun televisi yang ada saat itu) atau lewat kegiatan karang taruna di
tempat tinggal kami. Seolah memang G30S PKI merupakan bayangan hitam
sejarah Indonesia yang harus terus digelorakan untuk tidak terulang
lagi. Istilah yang top saat itu PKI adalah bahaya laten.
Film
berdurasi 4 jam yang menggambarkan kekejaman PKI dan antek-anteknya
dalam membunuh dan menyiksa 7 Pahlawan Revolusi selalu tergambar di
benak penonton. Kontras antara kedukaan korban dan kebiadaban karakter
PKI berhasil digambarkan oleh sutradara Arifin C Noer dalam setiap
scenenya. Namun image/citra yang didapat penonton akhirnya bermuara pada
tokoh antagonis (PKI) dan tokoh protagonis (Jenderal Soeharto/Orde
Baru).
Skenario/cerita yang ada dan yang digambarkan memang
sama seperti dalam buku sejarah yang diajarkan saat itu sebab sejarah
apapun rincian dan tujuannya tergantung yang menang, seperti Jenderal
Soeharto yang menjadi Presiden Ke 2 RI adalah pahlawan dalam peristiwa
ini. Dan ini tidak berakhir disini saja pengkultusan Jenderal Soeharto,
lihat film Janur Kuning dan Serangan Fajar(Serangan Umum 1 Maret).
Rupanya Pak Harto sadar, film adalah media efektif dalam menggambarkan
"kebesaran"seorang pemimpin dalam memberikan pencitraan positif kepada
warganya. Dan inilah pelajaran yang didapat dari Hollywood dalam rasa
"cinta tanah air"yang digambarkan lewat Bendera AS, Gedung Putih,
Capitol Hall dan simbol-simbol kebesaran AS dalam setiap film-film yang
dirilisnya.
Kejatuhan Soekarno, Presiden RI pertama, saat itu
dan timbulnya peristiwa G30 S PKI bisa jadi sikap netral Bung Karno
dalam menyikapi persaingan antara kelompok Nasionalis, Agama dan
Komunis. Sikap netral yang tentu saja membuat kalangan agama gerah
setelah ketiga kelompok itu dikumpulkan menjadi satu yaitu Nasakom.
Bagaimana mungkin Agama yang punya Tuhan dijadikan satu dengan Komunis
yang anti Tuhan?
Kemudian adanya fakta Bung Karno dekat dengan
RRC (Republik Rakyat China) yang komunis sehingga ada poros
Jakarta-Beijing, yang katanya membuat AS (Amerika Serikat) berang, belum
lagi sikap Bung Karno yang non blok sehingga dengan bebas Bung Karno
berhubungan dengan petinggi Uni Soviet (Rusia saat ini). Keluarnya
Indonesia dari PBB, konflik dengan Singapura(Dwikora) dan Konfrontasi
dengan Malaysia menambah runyamnya kondisi politik saat itu. Tapi yang
jelas Soekarno saat itu mampu menjaga tumpah darah Indonesia dari
eksploitasi negeri asing, kasarnya dibeli untuk menyerahkan konsesi
kekayaan negerinya-suatu sikap yang jarang ada saat ini. Soekarno dengan
plus minusnya tetap teguh dalam pendiriannya menganggap dinamika
politik saat itu janganlah sampai menghancurkan negeri ini.
Dramatisnya
film ini saat Ade Irma Suryani, anak almarhum Jenderal A.H. Nasution,
ikut tewas, serta kemarahan Jenderal Ahmad Yani yang ingin berpakaian
lengkap untuk menghadap Presiden RI, Soekarno, tapi justru dihardik
untuk segera naik ke truk penjemput dan akhirnya ditembak serta
peristiwa penculikan dan pembunuhan Pahlawan Revolusi lain tepat 50
tahun lalu. Kejadian itu memang sangat membekas di benak penonton betapa
kejamnya sebuah perang saudara, karena Pasukan Tjakra Birawa, pasukan
elite dan pengawal Presiden malah menjadi tokoh antagonis. Isu Dewan
Djenderal yang terus dibawa dalam film ini menjadi kata kunci betapa
rinci dan runutnya desain penghkhianatan ini terjadi.
Akhirnya
bicara 50 tahun setelah peristiwa itu terjadi , hingga hilangnya surat
Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang diterimakan kepada 3
Jenderal yaitu Basuki Rahmat, Amir Machmud dan Muhammad Yusuf, serta
dugaan CIA terlibat membuat peristiwa ini masih penuh tanda tanya hingga
saat ini.
Tapi bagi mereka yang paham kondisi politik dan
militer saat itu, sungguh luar biasa desain peristiwa itu, ibarat dalang
dan wayangnya. Para wayang muncul, berperan dan dimatikan, begitu juga
dengan peristiwa yang timbul dan tenggelam seolah ada grand design yang
luar biasa. Hingga akhirnya setelah peristiwa kelam itu terjadi ,
Jenderal Soeharto, diangkat sebagai Presiden RI ke 2, karena dianggap
berjasa dalam memadamkan peristiwa G30S PKI dan kemungkinan Indonesia
menjadi negara yang terpecah belah. Dan akhirnya sebagai pemimpin Orde
Baru, Soeharto punya otoritas penuh melarang dan membubarkan PKI dan
meletakkan Komunis sebagai public enemy number 1, hingga saat ini.
Bagi
mereka yang lahir dan besar di tahun 90an, mungkin tidak akan pernah
melihat film Pengkhianatan G30s PKI ini lagi sebagai rutinitas kegiatan
menonton pada setiap tanggal 30 September malam. Film yang telah
dihentikan penayangannya pada tahun 1998 memang banyak mendeskritkan
pihak lain antara lain simbol Angkatan Udara seperti Lanud Halim PK yang
dianggap sebagai sarang PKI. Dan ini rupanya ada hubungan sepertinya
dengan status Marsekal Umar Dani, sebagai salah satu petinggi AURI saat
itu.
Setelah era Perang Dingin (Persaingan AS & Uni Soviet)
lewat sejak jatuhnya Tembok Berlin 1989, ancaman perang Nuklir masih
prediksi, justru saat ini adanya Perang Ekonomi lewat Perang Mata Uang,
dan inilah perang tanpa senjata tapi lebih mematikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar