Menulis sejatinya dapat dilakukan siapa
saja dimana saja. Seseorang yang meletakkan informasi dalam sebuah
aksara di selembar uang kertas, atau di tembok-tembok sepanjang jalan
juga dikatakan menulis. Ketika media cetak di zaman penjajahan di pantau
penuh dengan ketat, tulisan-tulisan di pinggiran jalan menjadi media
untuk mengobarkan semangat rakyat untuk merdeka.
Kini era
kucing-kucingan dalam menulis sudah menjadi sejarah. Tidak ada lagi rasa
takut atas tulisan vokal yang akan membawa penulis dan penerbit ke
dalam penjara. Asal tidak berisi konten yang meresahkan masyarakat,
berbau sara, menyerang martabat pribadi, dan mengandung kedustaan. Lihat
saja media masa yang gencar mengkritik pemerintahan. Masyarakat pun tak
luput andil bersuara di wadah-wadah yang tersedia. Salah satunya
Kompasiana ini.
Kebebasan masyarakat dalam menulis seyogyanya
harus di imbangi dengan kemampuan dalam memberikan sajian tulisan yang
baik. Bagaimana pembaca dapat teredukasi terhadap apa yang sudah
dituliskan. Masyarakat sebagai penikmat tulisan memiliki hak untuk
memperoleh informasi yang benar. Bukan berita simpang siur tanpa
kebenaran.
Dalam sebuah pemberitaan, seorang wartawan selalu
memiliki sudut pandang dan keberpihakan bagaimana informasi itu untuk
diberitakan. Bahkan seorang wartawan memiliki kuasa absolut untuk
memilih mana berita yang akan di publish atau tidak. Sebuah isu yang
menyedot perhatian publik kadang kala terdapat pusaran suara hetero yang
itu tidak dapat dihindarkan. Kenaikan harga BBM menjadi isu yang
memisahkan masyarakat menjadi kalangan yang setuju di naikkan dan yang
menolak kenaikan harga BBM. Dua buah media yang memberitakan dengan
sudut pandang yang berbeda tentang kenaikan harga BBM bukanlah indikator
bahwa salah satu diantara media itu telah berdusta.
Kegiatan
seorang wartawan sejatinya tidak dapat dipisahkan dengan bagimana sikap
profesionalitas wartawan itu yang merujuk pada 9 elemen jurnalisme.
Terhadap nilai kejuuran dan verifikasi data adalah salah satu hal yang
harus di junjung tinggi.
Bagaimana dengan individu yang
menyuarakan pendapatnya dalam media yang dapat diakses secara luas?
berdasar penjabaran terhadap seorang wartawan diatas, maka seorang
penulis opini haruslah yakin bahwa apa yang ditulisnya merupakan sebuah
informasi yang benar dan penuh kejujuran dan didukung dengan data
penguat yang sesuai. Sebuah opini memang muncul dari dalam pemikiran
kita yang mana pemikiran itu di sampaikan kepada khalayak. Tetapi
sebelum pemikiran itu disampaikan kepada khalayak, alangkah baiknya kita
memastikan bahwa apa yang muncul dari benak ini merupakan hal yang
benar dan didukung data yang valid.
Tak ada asap jika tak ada api. Telusuri dahulu apa yang menjadi dasar pemikiran sebelum berpendapat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar