Senja, semilir angin singkat yang selalu membuat saya berdecak kagum
akan kuasa Tuhan sang Maha Malik. Negri ini memang pantas di juluki
sebagai surga dunia. Bagaimana tidak, Indonesia dengan maha kaya Sumber
Daya Alamnya juga memiliki Sumber Daya Manusia yang sangat berkualitas.
Fakta tersebut merupakan bukti kuat bahwa Indonesia memiliki potensi
yang sangat besar untuk menjadi negara maju.
Sejak lahir, saya
memang sudah tinggal di Ibu Kota Indonesia ini, Jakarta. Tempat yang
sangat mempesona lengkap dengan permasalahan yang cukup pelik karena
kota yang di kenal dengan kota metropolitan ini punya banyak cerita akan
penghuninya. Berdasarkan data yang dirilis dari Badan Pusat Statistik
tahun 2015, negara yang memiliki persentase populasi yang cukup tinggi,
bahkan tertinggi ke-empat di dunia memiliki jumlah penduduk yang
mencapai 255.461.686 jiwa yang terdiri dari lebih dari 50 juta usia
0-14, 150 juta lebih usia 15-64 dan 10 juta lebih usia 65 ke atas.
Jumlah tersebut memang bukan jumlah yang sedikit dan permasalahan yang
dimiliki pasti beragam, bahkan bisa dibilang rumit baik permasalahan di
pusat kota maupun di dalam kota sampai ke pedalaman.
Beragam
permasalahan yang masih sangat perlu di benahi seperti masalah Ekonomi,
Budaya dan Sosial akan selalu menjadi tema negeri ini, terutama bagi
sebagian pihak yang memiliki wewenang penting baik dari pihak
kementerian maupun non-kementerian. Dari sekian tema, ada satu hal yang
amat sangat dekat melekat dengan kehidupan kita sehari-hari yaitu
kelayakan hidup.
Sudahkah setiap jiwa yang hidup di negri ini
merasakan kehidupan yang sejahtera, hidup layak dan bekerja wajar.
Tentu, jawabanya belum. Namun, kelayakan hidup seluruh masyarakat
Indonesia adalah hak setiap jiwa. Meski ratusan juta jumlahnya, namun
dengan potensi yang dimiliki Indonesia, maka bukan tidak mungkin semua
penduduknya dapat merasakan kehidupan yang layak.
Dulu, saya
fikir mereka yang tinggal di pedalaman atau di daerah terpelosok seperti
di perbatasan Pulau baik di pulau jawa maupun di luar pulau jawa
menjadi satu-satunya sasaran utama untuk disejahterakan kehidupannya.
Namun, ternyata di tengah hiruk pikuk kehidupan Ibu kota, ada keadaan
yang kontras dengan predikat kehidupan di kota.
Orang Pinggiran
Bagi sebagian penduduk kota Jakarta yang setiap hari menggunakan commuter line rute
Bekasi-Jakarta Kota pasti sering memperhatikan pemandangan yang cukup
membuat hati siapapun terenyuh melihat kehidupan yang dialami oleh orang
pinggiran kota, tepatnya pinggiran rel. Mereka yang bertahan hidup di
balik bangunan lusuh terbuat dari susunan kayu atau triplek dengan atap
seadanya. Pekerjaan mereka tidak lain dari seorang pemulung, yang dicari
bukan barang berharga, hanya lembaran kardus yang masih layak digunakan
dan gelas plastik bekas yang mereka pungut dari beberapa warung makan.
Jam-jam makan siang menjadi peluang terbesar baginya untuk mendapatkan
gelas plastik bekas lebih banyak untuk di kumpulkan di karung yang
mereka gendong dibelakang pundak mereka untuk kemudian diberikan kepada
pengelola barang bekas agar bisa dijadikan nilai rupiah.
Tidak
sedikit dari mereka yang masih muda bahkan dibawah umur sudah menggeluti
perkerjaan sebagai pemulung. Meskipun pekerjaan itu halal, mereka
tetaplah generasi penerus yang sangat berhak mendapatkan pendidikan yang
layak karena kelak, mereka akan menjadi salah satu pemimpin yang akan
memimpin negara ini. Oleh karena itu, pendidikan adalah satu hal wajib
yang harus mereka dapatkan. Selain mereka yang masih di bawah umur,
tidak sedikit pula yang sudah lanjut usia bahkan sudah renta dan masih
berprofesi sebagai pemulung. Bukankah seharusnya mereka menikmati sisa
hidup dan masa senjanya di tempat yang nyaman atau berada di tengah
keluarga yang hangat?. Seharusnya mereka juga harus mendapatkan ruang
untuk mengisi masa senjanya.
Selain kondisi itu, diantara rute commuter line Manggarai-Tanah
Abang juga memiliki pemandangan serupa. Apabila diperhatikan ketika
kereta api listrik rute tersebut berhenti sejenak untuk menunggu antrean
sinyal masuk stasiun Manggarai, penumpang commuter line di
rute tersebut dapat melihat keadaan di bawah jembatan menuju halte
transjakarta Halimun. Disana ada kehidupan sangat sederhana nan tak
layak tang sedang berlangsung. Mereka tidak lain adalah sekelompok
pemulung yang terpaksa hidup di kolong jembatan. Alas tidur mereka bukan
lagi tanah, melainkan rangkaian besi penyangga jembatan yang diberi
selembar kayu tipis atau kardus untuk tempat beristirahat dengan lengkap
di bawahnya mengalir aliran sungai, yang bukan tidak mungkin
sewaktu-waktu alirannya akan semakin deras dan debit airnya akan
meningkat saat musim hujan tiba.
Hari Habitat Dunia
Menyaksikan
kenyataan sebagian masyarakat yang masih melangsungkan hidup di satu
tempat yang tidak layak merupakan salah satu fakta bahwa kepedulian
pemenuhan kebutuhan perumahan dan pemukiman yang layak untuk seluruh
lapisan masyarakat harus terus di galakkan.
Bertepatan dengan
Hari Habitat Dunia yang selalu di peringati setiap minggu awal bulan
Oktober, program ini bukan hanya menjadi tanggung jawab yang dimiliki
otoritas tertinggi di setiap negara. Dan Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (KPUPR) yang memiliki visi untuk mendukung Indonesia
sejahtera merupakan pihak yang memiliki wewenang kuat di Indonesia,
berperan untuk meningkatkan kelayakan kehidupan masyarakat Indonesia.
Khususnya perihal pengelolaan Sumber Daya Alam seperti meningkatkan
kualitas lingkungan dan pengembangan Sumber Daya Manusia seperti
menyejahterakan masyarakat.
Hakikatnya, Hari Habitat Dunia ialah
hari dimana kelayakan hidup bagi seluruh masyarakat dunia dapat
dirasakan. Kelayakan tersebut menjadi salah satu goal dari
memperingatinya Hari Habitat se-Dunia sekaligus untuk meningkatkan
kesadaran bertanggung jawab seluruh lapisan masyarakat demi kelangsungan
habitat manusia di masa depan. Untuk mencapai hal itu bukan hal yang
sulit apabila ada sinergi yang kuat antara Kementerian Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KPUPR) dan generasi penerus yang
bergabung dengan beberapa komunitas peduli habitat untuk masyarakat
seperti Habitat for Humanity atau seluruh lapisan masyarakat yang dengan senang hati mendukung program penyejahteraan masyarakat Indonesia.
Kekompakan
yang terbangun antara pihak kementerian dan non-kementerian yang kuat
akan melahirkan banyak inovasi invoasi cerdas untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat di masa depan. Inovasi yang dapat diterapkan
untuk masyarakat pinggiran yang jauh dari hidup layak ialah membangun
perumahan permanen yang layak dan meningkatkan kualitas lingkungan
pemukiman layak huni dan produktif melalui pembinaan dan fasilitas
pengembangan infrastruktur pemukiman yang terpadu, andal dan
berkelanjutan sesuai dengan salah satu visi Kementerian Pekerjaan Umum
dan Pemukiman Rakyat.
Dolan Bocah dan Alam Terbuka
Potret bocah yang di ambil dari offical twitter Good News From Indonesia
@GNFI adalah sejumput keceriaan yang memang seharusnya didapatkan oleh
anak se-usia mereka. Dengan caption “Dolan bocah di Pulo Cemeti,
Yogyakarta” Seorang bocah yang ceria nan polos bermain di alam terbuka.
Di sebuah ruang terbuka yang lekat dengan sentuhan artistik.
Tidak
ada lagi yang di harapkan oleh bocah-bocah se-usianya di seluruh
pelosok negeri ini selain tempat sebebas ini. Dengan tempat seperti ini
dan bisa merasakan bermain di tempat seelok ini, maka angka anak-anak
jalanan yang berada di pinggiran lampu merah akan berkurang. Mereka akan
lebih memilih bermain, bersosialisasi dan berekspresi di ruang terbuka
ini.
Dalam lingkungan ruang terbuka, salah satu edukasi yang
dapat diberikan ialah melalui inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat
luas seperti penataan ruang publik yang dapat di akses serta
dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Hal ini
bisa dimulai dengan memanfaatkan ruang yang berada di kolong jembatan
dengan membuat dekorasi simpel nan menarik untuk dijadikan ruang membaca
terbuka untuk siapa saja. Ruang publik tersebut bisa dijadikan sebagai
perpustakaan terbuka yang berisi buku-buku untuk semua kalangan yang
sasaran utamanya adalah anak-anak jalanan yang sangat minim mendapatkan
kesempatan untuk membaca dan menambah pengetahuan yang dasar.
Sementara
perpustakaan terbuka berjalan dengan baik, dan antusias pengunjung
untuk membaca semakin besar. Maka suasana akan lebih hidup jika wawasan
akademik diimbangi dengan wawasan non-akademik seperti penyediaan ruang
musik terbuka yang bertujuan untuk memperkenalkan secara dini alat-alat
musik tradisional dan modern yang berasal dari Indonesia. Ruang musik
terbuka ini baiknya menyediakan beragam alat musik yang dapat digunakan
dan dimainkan seluruh masyarakat untuk belajar merasakan sense of art
dari musik. Tentunya ruang musik terbuka ini akan menjadi pengalaman
yang berharga yang didapatkan generasi muda Indonesia sejak dini.
Menikmati
kehidupan yang layak merupakan hak setiap jiwa yang hidup di dunia ini.
Menghirup hembusan anginnya juga hak seluruh makhluk ciptaan Tuhan.
Ketika masih ada ketidaksejahteraan di suatu negara, maka perlu adanya
pembenahan yang bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja namun
menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat seperti partisipasi
generasi muda yang merupakan aset penting untuk kesejahteraan tersebut.
Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang selalu mendukung Hari Habitat
Dunia memberikan ruang seluas-luasnya bagi para generasi muda Indonesia
untuk berekplorasi menjadi bagian dari Hari Habitat Dunia 2015, sehingga
kami sebagai generasi muda tidak hanya bisa diam dan terus mengeluhi
keadaan yang buruk menjadi terpuruk melainkan bangkit dan bergerak
sekaligus menjadi generasi muda Indonesia yang tidak pernah lelah akan
Indonesia yang maju di masa depan.
Masa yang seluruh jiwanya
hidup sejahtera tanpa kemiskinan dan ketidaklayakan. Masa dimana seluruh
jiwanya bisa bergerak bebas di ruang manapun untuk berekspresi, bebas
menghirup harum angin di setiap senja, dan lantang mengeluarkan
ide-idenya di ruang bebas. Dan masa yang generasi mudanya mulai tumbuh
dengan wawasan yang luas dan talenta yang luar biasa sehingga dapat
membawa nama Indonesia ke Dunia melalui prestasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar