dit dot ideot.
30 September 2015 11:10:52
Dibaca : 34
Membicarakan Pancasila sebagai ideology
Negara, saya teringat dengan penjelasan guru PMP (Pendidikan Moral
Pancasila) dulu sewaktu duduk di bangku sekolah. Penuh optimisme akan
masa depan Negara bangsa ini, beliau menjelaskan bahwa Pancasila diambil
dari nilai-nilai yang sudah berakar dari masyarakat Indonesia sendiri.
Dengan kata lain, Pancasila adalah produk local, 100 % Indonesia.
Ini
artinya, kakek, nenek, bapak dan ibu saya, sudah menghidupi nilai-nilai
Pancasila meski tanpa pernah belajar PMP. Bahkan dari apa yang mereka
hidupi itulah, Pancasila coba dirumuskan. Itu juga berarti pada tataran
real, mereka para pendahulu lebih ‘gape’ mengamalkan Pancasila,
meski tidak pernah tahu bahwa itu adalah Pancasila pada hakikat
sesungguhnya. Jika memang Pancasila diambil dari nilai yang sudah
dihidupi oleh penduduk negeri ini, tentu tidak perlu ada klaim yang
menyatakan bahwa ada kelompok yang Pancasilais dan yang lainnya tidak
Pancasilais. Lalu pertanyaannya kemudian adalah ; lantas untuk apa lagi
pendidikan Pancasila di berikan ? Toh, hal tersebut sudah melekat pada kehidupan masyarakat !
Pendidikan,
tidak pernah lepas dari kungkungan kepentingan. Siapapun pelaku dan
penyelenggaranya, sama saja. Sehingga menurut saya, tidak ada gambaran
proses pendidikan yang paling ideal, semuanya serba tergantung ; untuk
apa pendidikan itu di selenggarakan. Termasuk mata pelajaran apa yang
mesti diberikan, tidak terkecuali Pendidikan Pancasila.
Pancasila
sebagai milik bersama, prilaku alamiah setiap warga bangsa, ketika
diambil sebagai falsafah pada tataran teks dan symbol ternyata
kepemilikannya kemudian menjadi monopoli kalangan elit. Sehingga belajar
Pancasila, tidak lagi pada prilaku rakyat jelata dan bergaul di
masyarakat untuk hidup bersama, namun duduk, diam dan mendengar
penjelasan para penatar structural dengan jenjang kepangkatan tertentu.
Kebenaran tafsir dan bagaimana menghidupinya, sepenuhnya milik mereka.
Di luar itu, bukan Pancasila. Tetapi sosialis, ekstrim kanan dan
lainnya. Dunia persekolahan juga tidak bisa menghindar dari realitas
tersebut. Pancasila menjadi doktrin, yang mesti diterima begitu adanya.
Padahal roh Pancasila itu bukan teks, tetapi kehidupan.
Pancasila
menjadi sesuatu yang asing di tengah-tengah para aktornya, sebab
dituturkan menggunakan wacana, bukan prilaku. Menjadi warga harus begini
dan begitu, padahal begini dan begitu adalah bagian dari keseharian.
Sehingga Pancasila dihadirkan sebagai sesuatu yang dituju bukan sesuatu
yang harus dijaga bersama. Seperti menunjukkan jalan pada mereka yang
sebenarnya berjalan pada arah yang sebenarnya. Bukan berjalan bersama,
karena dalam perjalanan selalu ada jarak antara para elit menunjukkan
jalan dengan rakyat jelata yang sedang berjalan. Rakyat jelata jadi
terasing dengan langkahnya sendiri, tidak lagi kenal pada
pilihan-pilihan benarnya sendiri.
Kini Pendidikan Pancasila di
sekolah seperti berjalan sendiri, sunyi. Teks dan wacana-wacana ideal
selalu dibenturkan pada realitas social. Keteladanan prilaku menjadi
sesuatu yang sangat langka, kalaupun ada satu dua, pelakunya tidak lama
bertahan dalam pusaran kekuasaan. Tergeser, itu pun jika beruntung tidak
dibumikan. Musuh, bukan lagi mereka yang berdiri berhadapan dan
berkacak pinggang. Tetapi mereka yang secara kontinyu berteriak lantang,
Pancasila, satu, ketuhanan yang maha esa, dua dan seterusnya!
Pengkhianat, bukan lagi pengusung ideology komunis, sosialis atau entah
apa lagi, tetapi mereka yang mengaku Pancasilais untuk kepentingan
pribadinya. Lantas, bagaimana Pancasila kini mesti diajarkan? Mestikah
itu ditanyakan pada rumput yang bergoyang ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar