kami berbincang, menghadapi dilema ini.
"Jadi, apa pendapatmu dinda ?" tanyamu
"Ya
karena aku cinta padamu, dan kanda juga punya rasa yang sama khan,
tentu aku ingin menikah denganmu, tapi harus atas ijin istrimu"
"Untuk
sampai kesana banyak hal yang harus kita lalui, kalau dari fihakku gak
rumit, orang tuaku pasti menyerahkan keputusan padaku, hidupku adalah
pilihanku, dan pilihanku adalah tanggung jawabku, apapun resikonya"
ucapku
"Baiklah, untuk sementara kita jalani dulu apa adanya sampai kepastian itu datang" akhirnya itu jawab yang keluar dari bibirmu.
Hari
berganti minggu dan bulan. Kadang aku merasa cinta ini tidak jelas,
apakah menaruh harapan padanya suatu kesia-siaan? dan menghapus rasa ini
adalah siksaan bagiku. Kodratku sebagai wanita adalah menunggu dan
menunggu adalah sesuatu yang menjemukan.
Di
waktu yang lain, imajinasiku liar tak terkendali, terlintas di benakku
sebuah rencana yang gila dan nekad. Entah bagaimana caranya aku akan
datang ke rumahnya, bicara dengan istrinya. Tentu saat kanda Zuna sedang
tidak di rumah, bukankah aku selalu tahu, kapan dia di rumah kapan dia
di tempat kerjanya.
Belum adanya kepastian membuat
batinku tersiksa. Dan kepastian itu adalah apabila istrinya menyetjui
kami menikah. Nasibku tergantung pada persetujuannya. Maka atas bantuan
temanku, kami susun rencana, aku sudah pernah diberi kanda Zuna alamat.
Tepat seperti dugaanku, tak sulit menemukan rumahnya, kanda Zuna sangat
dikenal masyarakat di daerah itu. Sebagai pria yang baik dan alim,
bahkan orang-orang memanggilnya pak Ustadz.
Sampailah
kami di sebuah rumah yang tampak asri dan sejuk. Jujur, hatiku sangat
berdebar tak karuan, seperti apakah wanita yang akan kuhadapi, yang
telah sekian puluh tahun mendampingi kanda Zuna, sungguh pencapaian yang
luar biasa.
Bahkan kanda Zuna pernah menceritakan padaku, mereka telah menunggu 20 tahun baru dikaruniai seorang putra.
Aduuh.......bagaimana ini, kenapa sudah sampai disini tapi perasaanku jadi bimbang. Maju kena mundur kena.
Dan,
terlambat untuk mundur, belum sampai kami di depan pintu, pintu telah
terbuka dari dalam. Seorang wanita sebaya denganku kira-kira atau lebih
muda 1, 2 tahun mungkin. Berpenampilan sederhana, berbaju muslim dan
berjilbab, agak sedikit heran menyambut kedatangan kami di depan pintu.
Kudahului saja mengucap salam "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh" jawabnya.
Dan kami dipersilahkan masuk dan duduk. Aku sengaja mengambil posisi berhadapan, agar dapat dengan jelas ku memandangnya.
Sejenak kemudian bu Zuna membuka percakapan. Layaknya seorang tuan rumah, ramah dan halus setiap kata yang terucap.
Ken
hanya mengatakan bahwa kami dan kanda Zuna adalah teman sesama penulis
di Kompasiana. Dan kedatangan kami hanyalah mampir silaturrahmi karena
kebetulan sedang ada urusan di kota itu. Singkat cerita, kami pun pamit.
Dalam
mobil perjalanan pulang, kusandarkan kepalaku dan kupejamkan mataku.
Ken yang tau gelagat hanya memandangku sekilas dan tetap fokus pegang
kemudi.
Ya Tuhan ampuni dosaku, dan selalu
tuntunlah langkahku. Rasanya aku tak sampai hati menyakiti hati bu Zuna,
aku pernah dalam posisi itu dan aku telah merasakan bagaimana sakitnya
hati ini.
Akan kusudahi saja hubungan yang salah ini, biarlah ini menjadi catatan dalam buku hidupku.
Bu Zuna, ma'afkan aku.
Tak terasa mataku berkaca-kaca, dan tak tertahankan lagi mengalir deras air mata membasahi pipiku.
Tiba-tiba
Ken menghentikan mobil, dan kubuka mataku, kami berhenti di pinggir
jalan. Dia memandangku dan menyodorkan sapu tangan.
"Nih...tissunya
lagi habis, kenapa kau mbak ? Keluarkan semua beban batinmu, lepaskan
semuanya, aku mendengarkan, please mbak....jangan menyiksa diri sendiri"
"Akan kusudahi saja hubungan yang salah ini Ken, dan kututup lagi buku cintaku" Jawabku
"What...? Kenapa..? Mbak yakin..? cerocos Ken bertubi-tubi
"Aku
hanya tak ingin menyakiti hati wanita lain, juga tak ingin merusak
tatanan rumah tangga orang lain.bayangkan Ken,wanita iti telah 30 tahun
mendampingi Zuna dengan setia,tentulah dala duka dan suka”.
“Kanda Zuna pun telah dengan sabar menunggu 20 tahun baru bu Zuna hamil dan punya anak”.
“Luar biasa Ken.....keduanya kini telah memetik buah kesabaran dalam kebersamaan mereka,karier Zuna pun sekarang sedang bagus”
“Aduuh...sungguh tak tau diri aku ini Ken”
“Sudahlah...ayo lanjutkan perjalan.antar aku pulang” cerocosku.
"Siapp" jawaban Ken dan dia menjalankan mobilnya lagi.
Dan demikianlah cerita ini kuakhiri.
Kalau ada kesamaan nama, itu hanya imajinasiku saja.
Tanah Papua, 30 April 2015
Sumber gambar : http://kirsmanlimapdg.blogspot.com/2013/05/apa-pentingnya-perpisahan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar