DIDIK BAYU SAMODRA COPALX

Rabu, 30 September 2015

salim kancil 1

Aku dan beberapa kawan di Lampung, Jakarta dan Bogor tengah memperjuangkan sebuah program untuk membantu 400 anak sekolah di Mesuji, Lampung yang terancam putus sekolah, saat sebuah sebuah berita tragedi berdarah menyebar dengan cepat di jagat maya. Pertama-tama via Facebook, lalu Instagram, Twitter, Youtube sampai televisi. Antara aku dan lokasi kejadian berjarak sejauh Jawa Barat ke Jawa Timur. Tetapi merah darah itu membayang terus dimataku dan bau amisnya sampai ke hidungku. Jantungku sampai berdegup kencang dan perutku merasa sangat mual, tapi aku tak bisa memuntahkan apa-apa. Tak terbayang rasa sakit yang sampai ke ulu hati bagi keluarga korban dan penduduk dimana tragedi berdarah itu berlangsung bahkan sebelum sinar matahari terasa panasnya di kulit dan rerumputan.
Tragedi berdarah itu berkisah tentang dua lelaki kecil lagi miskin yang menjadi korban pembantaian sekelompok manusia beringas di Lumajang, Jawa Timur. Adalah Salim Kancil dan Tosan yang dikenal sebagai pejuang lingkungan hidup yang memimpin masyarakat desa Selok Awar-Awar untuk menolak praktek pertambangan pasir besi ilegal di desa mereka, dibantai sekelompok orang. Kronologi yang tergambar sangar bengis dan beringas disampaikan WALHI Jawa Timur, yang kemudian menimbulkan reaksi keras di media sosial. Beberapa netizen juga mengunggah gambar-gambar korban yang memancing kemarahan dan luka psikologis publik. Bagaimanapun darah merah itu mengingatkan pada luka-luka yang menimpa banyak aktivis di negeri ini. Yang hingga hari ini belum mendapat keadilan, yang para penjahatnya belum diadili dan dihukum. Oh, katanya negara ini negara hukum.

Kejadian ini bermula ketika pada Januari 2015 sebanyak 12 orang lelaki dari desa Selok Awar-Awar, kecamatan Pasirian, Lumajang-Jawa Timur membentuk sebuah forum komunikasi untuk melakukan advokasi atas kerusakan lingkungan di desa mereka akibat penambangan pasir besi ilegal. Karena menganggap praktek penambangan pasir besi itu akan merusak lingkungan, mereka menyampaikan surat keberatan pada kepala Desa, Camat dan Bupati Lumajang sebab penambangan itu berkodeok izin pariwisata. Awal September bersama masyarakat desa, mereka melakukan aksi damai untuk menghentikan penambangan dan menyetop truk pengangkut pasir. Dalam proses itu mereka justru diintimidasi sekelompok preman yang orang-orangnya mereka kenal. Meski kemudian mereka memasukkan laporan ke kepolisian, laporan mereka hanya diterima tanpa diproses. Mereka juga membuat laporan mengenai aktivitas "penambangan ilegal" tersebut dan akan melakukan aksi damai lagi pada tanggal 26 Sepetmber.
Hari ketika masyarakat desa berencana melakukan aksi damai sebagai sarana menyalurkan aspirasi yang tersumbat kepada negara, Tosan dibantai saat menyelamatkan diri dari penganiayaan sekelompok orang. Tubuhnya bahkan dijadikan mainan menggunakan motor trail hingga ia harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Tak lama kemudian kelompok preman itu mendatangi rumah Salim yang seketika itu juga menyeretnya sejauh dua kilometer ke balai desa, menyiksanya sebegitu rupa hingga ia meninggal dunia. Kejadian itu disaksikan keluarga, anak-anak PAUD yang tengah belajar dan masyarakat desa yang ketakutan. Jasadnya dilempar ke jalanan sebagai 'warning' bagi masyarakat desa yang selama ini berjuang bersama Salim. Semuanya terjadi sangat cepat, antara pukul 8:00-8:30 pagi waktu Jawa Timur, saat aroma wangi kopi dan nasi masih mengepul dari meja makan dimana kita sarapan pagi.
Gambaran kemarahan Netizen di media sosial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar