DIDIK BAYU SAMODRA COPALX

Rabu, 30 September 2015

musni umar

Bung Karno pernah berkata “Jasmerah”, Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Sejarah selalu berulang kembali.
Maka dalam rangka memeringati 50 Tahun G 30 S PKI, yang terjadi pada 30 September 1965 menjelang dini, saya ingin menyampaikan 10 catatan:
1. Generasi muda sudah banyak yang lupa sejarah pengkhianatan PKI terhadap republik Indonesia. Tahun 1948, PKI melakukan pemberontakan untuk merebut kekuasaan yang menimbulkan korban sangat banyak dari kalangan umat Islam, yang dikenal dengan peristiwa Madiun Affair. Kemudian tahun 1965 yang dikenal dengan G 30 PKI, sekali lagi melakukan perebutan kekuasaan berdarah yang membawa korban 7 Jenderal TNI AD.
2. Pasca perebutan kekuasaan G 30 S yang gagal, terjadi balas dendam besar-besaran yang dilakukan terhadap para pemimpin PKI, kader, anggota dan simpatisan PKI. Ada yang menyebutkan jumlah yang dibunuh mencapai jutaan orang. Selain itu, banyak yang ditahan, disiksa diberbagai penjara termasuk di Pulau Buru tanpa melalui proses pengadilan.
3. Setelah lahir Orde Reformasi, muncul tuntutan dari berbagai kalangan supaya dilakukan rekonsiliasi. Belakangan ini, semakin keras tuntutan tersebut, bahkan Presiden Jokowi atas nama pemerintah didesak untuk meminta maaf kepada korban peristiwa G 30 S PKI. Belum cukup, kasus PKI dibawah ke forum internasional di Mahkamah Internasional di Den Haag Belanda,
4. PKI menganut ideologi yang menarik bagi rakyat jelata, karena semua orang itu sama. Tidak ada kelas sosial seperti yang dikenal di dalam masyarakat kapitalis, yaitu kelas bawah (lower class), kelas menengah (middle class), dan kelas atas (high class). Perjuangan mereka adalah mewujudkan masyarakat yang makmur tanpa kelas. Walaupun dalam realitas di negara-negara komunis, tidak seperti yang diperjuangkan PKI.
5. PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000-5.000 anggota pada 1950, menjadi 165.000 pada 1954 dan bahkan 1,5 juta pada 1959. Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada tahun 1963, jumlah anggota PKI telah mencapai 2 juta, bahkan ada yang menyebut 3 juta orang. PKI pada saat itu menjadi partai terbesar ketiga di dunia setelah RRC dan Uni Sovyet.
6. Pemilu 1955 merupakan bukti besarnya dukungan rakyat jelata terhadap PKI, karena berhasil mengantongi dukungan suara 6.176.914 suara atau 16,3 persen dari 37.875.299 suara pemilih yang sah.
7. Kebijakan politik Bung Karno dengan jargon Naskom (Nasionalis, Agama, Komunis) telah memberi angin segar kepada kader, anggota, pendukung dan simpatisan PKI, yang mayoritas adalah orang-orang miskin dari kalangan buruh, tani, dan nelayan.
8. Orde Baru dan umat Islam sukses menghancurkan PKI dan melarang untuk selama-lamanya di bumi Indonesia. Rezim Orde Reformasi, dengan isu HAM mencoba menyelesaikan masalah lama yang ditengarai sebagai pelanggaran HAM berat, dengan membentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), tetapi gagal memecahkan akar masalah rakyat jelata, yaitu kebodohan dan kemiskinan.
9. Hal yang sering dilupakan, PKI cepat mendapat dukungan dari kalangan masyarakat bawah, karena masalah “perut”, yaitu keadilan dalam bidang ekonomi. Rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto berhasil menghabisi PKI, tetapi gagal mengentaskan dan memajukan ekonomi dan pendidikan orang-orang miskin. Begitu pula, rezim Orde Reformasi. Kegagalan pembangunan ekonomi Indonesia bisa menjadi entry point bangkitnya kembali PKI dan kekuatan lama yang telah dihancurkan
10. Setelah 50 tahun pemberontakan G 30 S PKI, di mana anak-anak, cucu-cucu dan keluarga dari pimpinan, kader, anggota, dan simpatisan PKI? Apakah keturunan mereka sudah berubah pendirian dan telah meninggalkan ideology PKI yang melawan Pancasila dengan kelima silanya terutama sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”, atau mereka merubah strategi dalam melanjutkan perjuangan orang tua mereka dengan menyelusup ke partai-partai politik, lembaga-lembaga negara dan menjadi pemimpin di daerah, di LSM dan lain-lain, yang ketika sudah di pusaran kekuasaan, berani berkata “Aku Bangga Menjadi Anak PKI”.
Allahu a’lam bisshawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar