DIDIK BAYU SAMODRA COPALX

Sabtu, 15 September 2018

samin3

Masyarakat Samin adalah para pengikut R. Kohar (Samin Soerontiko) yang juga lazim disebut dengan istilah sedulur sikep, dimana dia mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Masyarakat Samin tersebar di kawasan utara Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, seperti Kudus, Pati, Blora, Rembang, Bojonegoro bahkan sampai ke Ngawi. Raden Kohar mengubah namanya menjadi Samin yang dianggap sebagai identitas yang lebih bernafas kerakyatan. Kemudian, setelah menularkan ajarannya namanya ditambah menjadi Samin Surasentiko, tetapi anak-didiknya lebih suka memanggilnya Kyai Samin Surasentiko atau Ki Samin (Hutomo, 1996: 13-14).
            Samin Soerontiko adalah sebenarnya adalah keturunan salah satu bangsawan Majapahit yang karena alasan tertentu memutuskan meninggalkan  gemerlap dunia kebangsawanan (Wahono dkk, 2002). Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826 (Hutomo, 1996: 14-16).
Samin adalah tokoh dibalik terjadinya perlawanan (1905-1930) secara masiv terhadap pemerintah kolonial Belanda. Perlawanan ini sebagai adalah reaksi dari tindakan pemerintah kolonial Belanda yang memaksa masyarakat untuk membayar pajak dan ikut dalam kerja rodi serta pengambilan paksa tanah desa untuk dijadikan sebagai lahan untuk tanaman Jati. Pemerintah kolonial Belanda tidak segan menghukum dan menyiksa bagi mereka yang menentang keinginan tersebu. Pada tanggal 8 November 1907, Samin Surentiko diangkat oleh pengikutnyasebagai Ratu Tanah Jawa atau Ratu Adil Heru Cakra dengan gelar Prabu PanembahanSuryangalam (Hutomo, 1996: 21).
            Empat puluh hari sesudah pengukuhan Ratu Adil tersebut, Samin Surosentiko ditangkap olehRaden Pranolo, Ndoro Seten (Asisten Wedana) di Randublatung, Blora. Samin ditahan dibekas tobong pembakaran batu gamping. Sesudah itu dia dibawa ke Rembang untuk prosesinterogasi. Kemudian dia bersama delapan pengikutnya yakni Kartogolo, Renodikromo,Soerjani, Soredjo, Singo tirto dibuang ke luar Jawa. Samin Surosentiko meninggal di Padangpada tahun 1914.Setelah Samin ditangkap serta meninggal di Padang, perlawanan wong Sikep tidak kemudianberhenti. Murid, pengikut maupun kerabat dekatnya meneruskan perlawanan tersebut dibeberapa daerah sekaligus menyebarkan ajaran Samin atau ajaran Agama Adam (Purwanto, 2009: 3).
            Wongsorejo, salah seorang pengikut Samin menyebarkan Agama Adam di distrik Jiwan, Madiun. Wongsorejo mengajak penduduk Madiun untuk tidak membayar pajak kepada pemerintah. Demikianhalnya Surohidin, menantu Samin, dan Engkrak yang menyebarkan Agama Adam di daerah Grobogan. Di Kajen, Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendhang Janur, dan menghimbau orang-orang desa untuk tidak membayar pajak. Sementara itu, Samat , seorang pemimpin pergerakan Samin di Pati, mengajarkan bahwa Ratu Adil akan datang apabila tanah yang digadai oleh pemerintah Hindia Belanda dikembalikan kepada orang Jawa. Hingga padatahun 1930, penyebaran Agama Adam relatif berhenti disebabkan karena ketiadaan pemimpin yang tangguh (Purwanto, 2009: 4).
             Sementara itu pada masa pendudukan Jepang dilaporkan bahwa orang - orang Samin yang berdiam didesa-desa Bapangnn Djegor Nglaren dan Tambak semua berjumlah 1300 orang.  sejak kedatangan balatentara Dai Nipon masyarakat Samin kembali menjadi masyarakat biasa, misalnya membayar pajak, ronda serta menuruti perintah polisi (Soeara Asia, 14 November 1942). Hal ini mungkin karena pengaruh propaganda Jepang yang datang dengan mengaku sebagai saudara tua yang akan membebaskan dari belenggu penjajahan Belanda.
            Berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya yang cenderung bersifat feodal dengan stratisfikasi masyarakatnya yang ketat, masayarakat Samin cenderung bersifat egaliter. Dibuktikan dengan hanya digunakanya bahasa Jawa Ngoko sebagai bahasa sehari-hari yang dicampur dengan kata-kata lokal, selain itu masyarakat Samin juga selalu menganggap orang lain sesama Samin sebagai sedulur atau saudara (Dekker, 1970: 26-27).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar