Masyarakat Samin adalah para pengikut R. Kohar (Samin
Soerontiko) yang juga lazim disebut dengan istilah sedulur sikep,
dimana dia mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain
di luar kekerasan. Masyarakat
Samin tersebar di
kawasan utara Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, seperti
Kudus, Pati, Blora, Rembang, Bojonegoro bahkan sampai ke Ngawi. Raden Kohar
mengubah namanya menjadi Samin yang dianggap sebagai identitas yang lebih bernafas kerakyatan. Kemudian, setelah menularkan ajarannya namanya
ditambah menjadi Samin Surasentiko, tetapi
anak-didiknya lebih suka memanggilnya Kyai Samin Surasentiko atau Ki Samin (Hutomo, 1996: 13-14).
Samin
Soerontiko adalah sebenarnya adalah keturunan salah satu bangsawan
Majapahit yang karena alasan tertentu memutuskan
meninggalkan gemerlap dunia kebangsawanan (Wahono dkk, 2002). Samin Surosentiko lahir pada tahun
1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama
Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Samin Surosentiko masih
mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga
masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah
Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada
tahun 1802-1826 (Hutomo, 1996: 14-16).
Samin adalah tokoh dibalik terjadinya
perlawanan (1905-1930) secara masiv terhadap pemerintah kolonial
Belanda. Perlawanan ini sebagai adalah reaksi dari tindakan pemerintah kolonial
Belanda yang memaksa masyarakat untuk membayar pajak dan ikut dalam kerja rodi
serta pengambilan paksa tanah desa untuk dijadikan sebagai lahan untuk tanaman
Jati. Pemerintah kolonial Belanda tidak segan menghukum dan menyiksa bagi
mereka yang menentang keinginan tersebu. Pada tanggal 8 November 1907, Samin
Surentiko diangkat oleh pengikutnyasebagai Ratu Tanah Jawa atau Ratu Adil Heru
Cakra dengan gelar Prabu PanembahanSuryangalam (Hutomo, 1996: 21).
Empat puluh hari sesudah pengukuhan Ratu Adil tersebut, Samin Surosentiko
ditangkap olehRaden Pranolo, Ndoro Seten (Asisten Wedana) di
Randublatung, Blora. Samin ditahan dibekas tobong pembakaran batu gamping.
Sesudah itu dia dibawa ke Rembang untuk prosesinterogasi. Kemudian dia bersama
delapan pengikutnya yakni Kartogolo, Renodikromo,Soerjani, Soredjo, Singo tirto
dibuang ke luar Jawa. Samin Surosentiko meninggal di Padangpada tahun 1914.Setelah
Samin ditangkap serta meninggal di Padang, perlawanan wong Sikep tidak
kemudianberhenti. Murid, pengikut maupun kerabat dekatnya meneruskan perlawanan
tersebut dibeberapa daerah sekaligus menyebarkan ajaran Samin atau ajaran Agama
Adam (Purwanto, 2009: 3).
Wongsorejo, salah seorang pengikut Samin menyebarkan Agama Adam di distrik
Jiwan, Madiun. Wongsorejo mengajak penduduk Madiun untuk tidak membayar pajak
kepada pemerintah. Demikianhalnya Surohidin, menantu Samin, dan Engkrak yang
menyebarkan Agama Adam di daerah Grobogan. Di Kajen, Pati, Karsiyah tampil
sebagai Pangeran Sendhang Janur, dan menghimbau orang-orang desa untuk tidak
membayar pajak. Sementara itu, Samat , seorang pemimpin
pergerakan Samin di Pati, mengajarkan bahwa Ratu Adil akan datang apabila tanah
yang digadai oleh pemerintah Hindia Belanda dikembalikan kepada orang Jawa.
Hingga padatahun 1930, penyebaran Agama Adam relatif berhenti disebabkan
karena ketiadaan pemimpin yang tangguh (Purwanto, 2009: 4).
Sementara itu pada masa pendudukan Jepang dilaporkan bahwa orang - orang
Samin yang berdiam didesa-desa Bapangnn Djegor Nglaren dan Tambak semua
berjumlah 1300 orang. sejak kedatangan balatentara Dai Nipon masyarakat
Samin kembali menjadi masyarakat biasa, misalnya membayar pajak, ronda serta
menuruti perintah polisi (Soeara Asia, 14 November 1942). Hal ini mungkin
karena pengaruh propaganda Jepang yang datang dengan mengaku sebagai saudara
tua yang akan membebaskan dari belenggu penjajahan Belanda.
Berbeda dengan masyarakat
Jawa pada umumnya yang cenderung bersifat feodal dengan stratisfikasi
masyarakatnya yang ketat, masayarakat Samin cenderung bersifat egaliter.
Dibuktikan dengan hanya digunakanya bahasa Jawa Ngoko sebagai bahasa
sehari-hari yang dicampur dengan kata-kata lokal, selain itu masyarakat Samin
juga selalu menganggap orang lain sesama Samin sebagai sedulur atau
saudara (Dekker, 1970: 26-27).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar