(Zustiyantoro, 2012).
Kutipan diatas sekilas bisa diartikan bahwa orang Samin besifat acuh terhadap
pendidikan. Namun, pengertian pendidikan disini perlu diperjelas bahwa
pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal (sekolah). Pendidikan formal
selama ini memang selalu dijadikan acuan utama untuk menilai seseorang itu
berpendidikan atau tidak. Seseorang dikatakan berpendidikan jika berpredikat
lulusan sebuah universitas dengan sederetan gelarnnya atau minimal pernah
merasakan duduk di bangku sekolah dan mendapat pelajaran dari guru sekolahnya.
Jika berpijak pada tujuan pendidikan menurut Plato (428-437 SM) yaitu
untuk membuat manusia menjadi lebih baik, atau tujuan pendidikan yang diuraikan
oleh Driyarkara (2006: 414) bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memanusiakan
manusia. Maka masyarakat Samin bukanlah masyarakat yang tidak berpendidikan,
mereka secara secara turun-temurun mewarisi ajaran dari nenek moyang mereka
dalam menjalani kehidupan. Pendidikan memang bukan hanya bisa diperoleh dari
bangku sekolah tapi pendidikan bisa diperoleh dari serangkain pengalaman,
lingkungan, teman sebaya, serta kearifan-kearifan lokal yang berupa ajaran
moral dll.
Dalam konsep ajaran Samin (Saminisme) ajaran moral menjadi pijakan utama. Di
era global ini nilai-nilai pendidikan pada masyarakat Samin kiranya penting
untuk dipelajari sebagai bahan untuk mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan
secara teknologis. Menghadapi globalisasi manusia tidak hanya membutuhkan bekal
ilmu teknologi ilmu dan pengetahuan yang luas tapi juga harus dibekali sikap
yang manusiawi dan moralis. R. Kohar yang merupakan tokoh intelektual dibalik
keberadaan masyarakat Samin dengan beberapa pemikiranya bisa jadi sebuah
alternatif pilihan ditengah gempuran pemikir-pemikir pendidikan asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar