Rabu, 15 Juli 2015
ADHII
aku pun buhuh diriku sendiri apa yang kucari lagi Mungkin sedang
menebak-nebak. Mungkin hanya mencari tahu. Ada ciri bajingan, atau
pemerkosa. Ternyata ia gagal menemukan ciri itu. Karena setelah dipaksa
lagi, ia nurut. Mau diantar Yanus pulang. Motor Yanus melaju perlahan.
Lalu dialog itu terjadi. Setelah berbasa-basi, ia mengaku, “Saya lagi
cari kerja, Cak. Suami saya pergi gak tau kemana”. Lalu ia terus
bercerita, seperti orang yang sudah lama tak memiliki tempat bercerita.
“Beberapa tahun lalu saya disuruh berhenti kerja. Gara-gara ada teman
yang usil cerita ke HRD, bapak saya eks tapol. Saya yakin, bukan
gara-gara itu saya disuruh berhenti. Pasti gara-gara HRD itu yang tidak
tau malu. Ia pernah minta tidur dengan saya, tapi tak tolak
mentah-mentah. Malah tak kaplok, cak,” katanya. Malam selalu memberi
warna tersendiri untuk setiap cerita. Dengan caranya, malam membuat
setiap kisah bergulir pilu dan beku. Kadang jika tidak hati-hati, kita
bisa keliru memahami. Sampai di rumahnya, perempuan itu meminta Yanus
masuk. Sambil menunggu perempuan itu keluar dari kamar, ada pria
bertubuh tambun dengan kulit hitam menghampiri. “Cak, bayar dulu. Jangan
seperti tamu kemarin. Habis main macak lali. Lupa gak bayar,” katanya
tegas. Ada aroma alkohol. “Bayar?” tanya Yanus. “Jiangkrik, jangan
pura-pura tidak tau. Bayar dulu. Kalau enggak mau, pergi sana,” katanya.
Yanus spontan berdiri dari kursi teras. Tanpa basa-basi ia berdiri dan
pergi. Lelaki itu masih ngomel tidak karuan, “Nek gak duwe duit gak usah
mbalon. Lha rumangsamu iki barang milik negara ta?”. Yanus pergi.
Motornya dipaksa melaju cepat. Membiarkan sumpah serapahnya tenggelam
dalam malam tak berujung.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar